Berobat ke Poli THT (Bagian 1)

‚ÄčKamis, 23 Februari 2017

Tadi pagi saya ke RSU Cut Meutia untuk memeriksa hidung saya. Sebelumnya saya terlebih dulu mengambil surat rujakan di puskesmas simpang mulieng. 
Saat di puskesmas simpang mulieng sebelum diberi surat rujukan saya diperiksa terlebih dahulu. 

“Apakah polip dok”? Tanya saya pada dokter yang memeriksa saya. “Bukan, cuma konka saja” (maksudnya pembesaran konka). Setelah diperiksa sambil menunggu surat rujukan saya mencoba browsing di mbak google apa itu konka, karena saya tidak tau apa konka itu, baru kali ini mendengarnya. Dan yang mengherankannya, kenapa saya tidak menanyakan pada dokter tadi.

Seusai mengambil surat rujakan saya bergegas ke RSU Cut Meutia. 

Sesampainya di rumah sakit saya langsung mengurus administrasi yang tidak begitu ribet, tentunya kalau kamu sudah tau caranya, dan berkasnya sudah lengkap. Kalau tidak yah kamu harus kudu bertanya dulu. Ada orang yang ketika dipanggil menyerahkan berkas, ternyata berkasnya belum di fotokopi, dan harus balik tempat foto kopi. 

Dan akhirnya saya terdampar di poli THT, dan saya harus menunggu giliran untuk dipanggil, di samping saya duduk seorang ibu paruh baya yang bercerita bahwa ia menderita sinusitis, sekarang ia ke THT bukan untuk berobat sinusitis tapi telinganya sedang bermasah, juga duduk di samping saya pemuda yang baru beberapa hari menjalani operasi polip dan sinusitis, ia bercerita tentang betapa sakitnya ketika tampol di keluarkan dari hidung. 

Cerita dari pasien penunggu ini kalau ditulis sudah jadi satu novel mungkin, tapi saya belum juga dipanggil. Dan setelah lama menunggu saya merasai bahwa saya harus ke wc terlebih dulu, saya berputar-putar mencari wc, “dimana sih wc, apa rumah sakit ini tidak punya wc” saya menggurutu dalam hati dan saya benar-benar tidak menemukan wc, karena khawatir dipanggil saya pun kembali, saya harus melupakan wc terlebih dahulu. 

Saya pun masuk, setelah nama saya dipanggil. Dan akhirnya saya bertemu dokter THT. “cuma alergi” kata dokter setelah memeriksa hidung saya. “Bukan polip dok” tanya saya meyakinkan. “Bukan, jangan lupa minum obatnya dan hindari debu dan dingin” jawab dokter. 

Selasa, 28 Februari 2017

“Tidak mengecil” Kata dokter THT setelah memeriksa hidung saya. 

“Bagaimana kalau kita kecilin?” Tanyanya lagi. Saya diam saja sambil senyum-senyum saja. 

“Ada mengganggu?” Dokter menambahkan pertanyaannya lagi. 

“Takut ya dioperasi?” Lanjut dokter

“Saya kasih obat sekali lagi ya?”

Senin, 6 Maret 2017

Hari ini kembali lagi ke RSU Cut Mutia untuk memeriksa hidung. Setelah menyerahkan berkas yang diperlukan saya kebelet pipis. Tidak mau kejadian kemarin capek mutar-mutar tidak ketemu juga toilet kali ini saya berinisiatif langsung menuju ke musalla. Saya berpikir setiap musalla pasti menyediakan toilet. 

Dan saat masuk ke wc tidak sengaja nemu tulisan ini di dinding wc. 

Lalu bagaimana maksudnya dengan tulisan ini?  Siapa yang bisa menjelaskannya.. ūüėĀ 
Hari ini di poli THT cukup banyak pengunjung. Saya sedikit menyesal, kenapa tidak esok saja saya berobatnya. 

Sambil menunggu dipanggil saya membaca buku Notes From Qatar 2 dari pada bengong tidak jelas. 

Setelah menghabiskan puluhan halaman buku akhirnya saya dipanggil juga. Ketika masuk ke ruang dokter, saya baru mengetahui hari ini yang bertugas bukan dokter Indra, dua kali ke poli THT selalu dokter Indra. Hari ini yang bertugas dokter Lukman Hakim Siregar, saya agak sedikit was-was, jangan-jangan nanti diagnosanya berbeda. 

“Ini harus di kerok, tulang hidungnya bengkok” kata dokter lukman setelah memeriksa hidung saya dan melihat buku riwayat kunjungan berobat saya. 

“Walau dikasih obat tidak ngefek” lanjutnya. 

“Coba di musyawarah dengan keluarga agar bisa diatur jadwal operasinya” tambahnya. 

Setelah itu dokter menulis resep obatnya dan lalu saya ke bagian farmasi untuk mengambil obatnya. 

Pada kunjungan yang lalu, dokter Indra cuma bilang harus dikecilin. Tidak mengatakan penyebabnya karena tulang hidung sayang bengkok.

Jum’at, 10 Maret 2017

Ini merupakan kunjungan ke 4 saya berobat di poli THT RSU Cut Meutia. Tujuan kedatangan hari ini ingin menanyakan jadwal operasi. Harusnya saya perginya hari kamis kemarin, tapi karena ada acara intat linto teman saya makanya kunjungan berobat saya majukan. 

Setelah mengunjungi poli THT beberapa kali saya menyadari kesalahan saya, kenapa saya tidak pernah menanyakan siapa dokter yang bertugas mulai dari hari senin hingga hari jumat sehingga saya bisa mengatur jadwal kunjungan saya dan bertemu dengan dokter yang saya suka. Karenanya tadi setelah keluar dari ruang dokter saya bertanya pada perawat yang duduk di depan komputer “Dokter Indra hari apa tugasnya buk?”, “hari selasa dan kamis”

Sebenarnya hari ini saya ingin berjumpa dengan dokter indra namun kalaupun bukan dokter indra saya pun tidak mempermasalahkannya, karena walaupun dokternya beda saya tetap dioperasi oleh ahlinya dan di rumah sakit ini. 

Hari ini adalah hari jum’at (dan semua orang pun tau), bagi laki-laki hari jumat berbeda dengan hari lainnya. Laki-laki hanya memiliki waktu yang sedikit di hari ini karena ada kewajiban yang dilaksanakannya. Dari semalam saya membuat planning bahwa saya harus sampai di rumah pukul 8.00 pagi, agar urusannya cepat kelar sebelum jumat. Pagi benar. Dan saya tau dokter pasti belum datang pukul tersebut. Namun setidaknya nanti saya yang dipanggil pertama kali masuk ke ruang THT dan saya merasa tidak akan mati disebabkan bosan menunggu karena saya punya rencana yang brilian. 

Agar berjalan sesuai rencana, saya hari ini rest dari olahraga. Karena kalau saya berolahraga pasti selesainya pukul 8.00 pagi, berhubung waktu subuh mulai telat. 

Saya berangkat pukul 7.45 pagi dan berharap sampai dalam waktu 15 menit ke buket rata dan sialnya cuaca pagi ini cukup dingin padahal saya telah memakai jacket, saya tidak bisa memacu sepeda motor dengan cepat. 

Saya tiba di rumah sakit dan langsung memarkirkan sepmor saya. Petugas parkir memasang nomor parkir di sepmor dan menyerah nomornya ke saya. 

“Uangnya” kata petugas parkir mengingatkan saya yang mulai melangkah meninggalkan tempat parkir

“Ohh ya, maaf saya lupa” kata saya sembari menyerahkan uang lembaran 5000 ke petugas parkir. Dan petugas parkir mengembalikan sisanya dua ribu ke saya. Saya menggerutu dalam hati “sejak kapan uang parkir naik menjadi 3000, padahal tiga kali kunjungan cuma 2000”. “Mungkin alasannya tidak punya uang kembalian seribu” gumam saya dalam hati. “Ah… Ikhlaskan saja” mencoba menenangkan diri saya. Dan saya benar-benar tidak bisa mengikhlaskan. 

Dan kemudian ketika pulang saya tau bahwa hari ini parkir dikutip 3000, saya mendengar ketika seseorang menanyakan berapa ongkos parkir pada petugas parkir. 

Saya langsung menekan tombol untuk mengambil nomor antrian, dan hari ini saya memecahkan rekor karena mendapatkan nomor antrian 61, tiga kali kunjungan saya mendapatkan nomor undian 400 sekian, dan petugas yang duduk di samping tempat pengambilan menyerahkan semacam brosur ke saya. Saya pun melihat brosur tadi, isinya tentang anjuran menjaga kesehatan ginjal. Pembagian brosur ini memperingati hari ginjal sedunia yang jatuhnya pada tanggal 9 maret. Pantas saja saat intat lintoe hari kamis saya melihat spanduk tentang ajakan menjaga ginjal. Dan hari ini tanggal 10 maret, “mungkin brosur ini tidak habis dibagi kemarin” pikir saya. 

Setelah nomor antrian dipanggil, saya pun menyerahkan berkas yang diperlukan. Dan setelah itu saya langsung mengambil tempat duduk di depan ruang THT. 

Dan saya pun menjalankan rencana brilian tadi. Menunggu sambil membaca. Walaupun saya dipanggil 2 jam mendatang saya tidak mempermasalahkan, sementara waktu saya masuk dalam dunia imajinasi. 

Saya ingin melanjutkan membaca novelnya Ilana Tan, In a Blue Moon. 

Ilana Tan merupakan salah satu penulis favorit saya. Novel-novelnya cukup bagus menurut saya. 

Saat membacanya saya mencoba mengontrol diri untuk tidak tertawa dan senyum-senyum sendiri. Karena saya sedang berobat di poli THT bukan di poli kejiwaan.

Setelah menamatkan novel Ilana Tan akhirnya saya dipanggil. Hari ini yang bertugas adalah dokter Lukman Hakim Siregar.

“Kalau dioperasi bagaimana dok?” Tanya saya membuka percakapan.

“Boleh, tapi jangan di sini” sahut dokter

“Di rumah sakit kesrem saja” sambungnya

Awalnya saya menduga akan dirujuk ke Banda Aceh, dan ternyata bukan.

“Masuk tanggal 20 dan kita operasi tanggal 21. Karena untuk beralih dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya harus berselang waktu 1 minggu” dokter menambahkan penjelasannya.

“Dibawa surat rujukan dari pukesmas yang dituju ke RS Kesrem, BPJS dan berkas lainnya yang diperlukan, seperti biasanya” jelas doktet dengan rinci.

“Bagaimana jadi gak, biar saya buat surat pengantar dari saya?” Tanya dokter memastikan keputusan saya.

“Jangan dulu dok, berobat aja dulu” jawab saya.

Saat berangkat ke rumah sakit tadi pagi saya sudah membulatkan keputusan “DIOPERASI”, ketika dokter menyebut tempat operasinya di RS Kesrem saya agak sedikit ragu. Alasannya karena mak saya lebih suka di RS Cut Meutia, itu saja. Dan abang saya pun menyarankan di Rs Cut Meutia.

Saya harus bertemu dokter Indra hari selasa ini.

Melelahkan memang bolak-balik ke rumah sakit. Tapi operasi itu bukan perkara enteng seperti pangkas rambut, harus dipikir matang-matang.

Buku Yang Terbaca Pada Bulan Januari & Februari

Haloo sobat semua.. Sudah cukup lama gak buka blog, dan kali ini saya kembali berjanji pada diri saya untuk tidak menelantarkan blog seperti ini. Setiap mengingat blog perasaan bersalah saya menyeruak, koq blog dibiarkan sepi gitu. Emangnya belakangan ini kemana saja? Saya tidak kemana-kemana. Saya merasa saja saat itu butuh istirahat dari kegiatan ngeblog. Dan benar-benar ingin memfokuskan diri untuk banyak membaca. Saya merasa penulis yang tidak banyak membaca tulisannya tidak punya ruh sama sekali dan juga di awal tahun 2017 saya sudah membuat target untuk lebih banyak membaca, mau tidak mau saya harus bisa berhemat hemat dalam menggunakan waktu. Hahaha

Dua bulan ini saya benar tergila-gila dalam membaca, dan lagi pula saya punya banyak waktu luang karena kegiatan mengajar saya di pesantren lagi libur karena ujian dan pemilukada. 

Berikut ini buku ini buku-buku yang saya baca dalam dua bulan ini. 



Buku-buku yang terbaca dalam bulan januari;  

  1.  Rindu Sebatang Pohon, refleksi keteladanan; W.A.A Ibrahimy
  2. Fiqih Sesat, analisis madzhab fil islam; M. Badruddin Fuad
  3. Potret Ajaran Muhammad Dalam Sikap Santun Akidah NU;  Forum Kail Mas 2014
  4. Asbabul Wurud Hadits-Hadits Nabi ;An Nakhrawie.
  5. Negeri 5 Menara; A. Fuadi
  6. Anti Mazhab

Buku-buku yang terbaca bulan februari:

  1. ‚ÄčBulan Terbelah di Amerika; Hanum Salsabila Rais
  2. Betang Cinta Yang Tumbuh Dalam Diam; Shabrina Ws
  3. Ranah 3 warna; A. Fuadi
  4. Ayahku Bukan Pembohong; Tere Liye
  5. Negeri Para Bedebah; Tere Liye
  6. Negeri di Ujung Tanduk; Tere Liye
  7. Summer in Seoul; Ilana Tan
  8. Autum in Paris;  Ilana Tan
  9. Winter in Tokyo; Ilana Tan
  10. Spring in London; Ilana Tan 
  11. Sunshine Becomes You; Ilana Tan
  12. The Great Episodes of Muhammad; Dr Al Buthy. 

Banyak banget kan? Hahaha..  Tapi kebanyakannya sih fiksi. Kalau baca fiksi tidak butuh konsentrasi penuh, dan kita hanyut dalam imajinasi jadi gak pernah bosan bacanya. Dan paling banyak novel dari Ilana Tan. Jujur saja saya sangat suka dengan novelnya. Dan di bulan maret ini ada lagi novel dari Ilana Tan yang ingin saya habiskan.

Kalau sobat sudah berapa banyak buku yang dihabiskan dalam dua bulan ini?  

Ummi Maktum dan Kita 

Surat Abasa turun disebabkan oleh nabi bermasam muka ketika didatangi oleh ummi maktum. Dan saya tidak ingin membahas masalah kenapa nabi sampai bermasam muka. 

Saya ingin membahas dari sisi lain, tujuan kedatangan ummi maktum. 

Sebenarnya apa tujuan dari ummi maktum menjumpai nabi? 

Pada ayat selanjutnya Allah mengatakan “Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”

Jadi ummi maktum menjumpai nabi untuk meneguk beberapa ilmu dari nabi. 

Lalu kenapa? 

Coba bayangkan kondisi ummi maktum ketika ingin berjumpa dengan nabi, beliau dalam keadaan buta. 

Apakah ummi maktum berjalannya adanya penuntun atau tidak? Saya tidak mengetahuinya, yang jelas dengan kondisi tersebut sangat menyulitkan ummi maktum. Namun keterbatasan yang beliau tidak lantas membuatnya tidak bersemangat dalam menuntut ilmu. Beliau tidak peduli dengan keterbatasan, hausnya ilmu membuat keterbatasan bukanlah sebuah kendala. 

Lalu bagaimana dengan kita? Kita punya seribu alasan untuk tidak menghadari majlis ilmu, “tidak punya waktulah, “ngantuk lah” dan seabrek alasan lainnya. Padahal Allah masih memberikan nikmat mata untuk kita, yang membuat kita lebih mudah menghadiri majlis ilmu.

Syukur adalah seorang hamba yang mempergunakan semua nikmat yang diberi oleh Allah pada tempat tujuannya diciptakan hamba tersebut. Allah menciptakan hambanya agar si hamba menyembah Nya. Maka semua nikmat harus dipergunakan dalam rangka menyembah Allah. 

Menghadiri pengajian menurut saya adalah salah satu wujud syukur. 

Iseng Dan Ketidaktahuan 

Saat kakak saya mengeringkan pakaiannya dengan mesin cuci karena rasa penasaran saya dengan bagaimana kerja mesin cuci mengeringkan pakaian saya mencoba membuka penutup tabung pengering pakaian. Tiba-tiba mesin cucinya berhenti. Kakak saya berteriak “jangan dibuka..!” . Oh ternyata mesin cucinya akan berhenti otomatis bila penutup tabung pengering dibuka. Saya baru ini mengetahui. Kakak saya menjelaskan, mungkin saja mesin cuci dibuat seperti  untuk menghindari dari anak-anak. Kan berbahaya kalau sampai menyentuh di dalamnya. 

Padahal di tabung pengering sudah ada peringatan untuk tidak menyentuhnya saat mesin bekerja. ūüėĀ

Bagaimana dengan Anda, apakah juga pernah mengalami kejadian seperti saya? 

2017 dan Semangat Membaca 

Walaupun tahun baru sudah lewat 6 hari tapi tak mengapalah menulis hal-hal yang berbau tahun baru. 

Awal tahun 2016 lalu saya pernah membuat target membaca buku minimal 2 buku dalam sebulan atau 24 buku dalam setahun. 

Lalu apakah targetnya berjalan lancar? Tidak. Saya benar-benar gagal dalam target ini. Tahun 2016 saya cuma membaca beberapa buku. 

Apa penyebabnya hingga saya gagal? Yah..  Karena saya tidak mempunyai komitmen yang kuat dalam merealisasikan target yang sudah saya tentukan. Saya lebih memilih menggunakan waktu luang untuk menonton anime ketimbang membaca buku atau saya lebih nongkrong di warungkopi ketimbang menikmati sebuah buku. 

Harapan di tahun 2017 saya lebih meningkatkan kuantitas membaca saya. Saya harus pandai membagi waktu, untuk membaca buku dan menonton anime. 

 Bagaimana dengan Anda, berapa banyak buku yang terbaca di tahun 2016?

Trauma Masa Lalu dan Rasa Waswas 

#PrayforPidieJaya

#PrayforAceh

7 Desember 2016

Subuh pada hari tersebut saya baru saja bangun tidur dan masih ditempat tidur, tiba-tiba saya merasa goyangan yang cukup kuat karena baru bangun tidur saya merasa bengong kenapa nih tempat tidur bergoyang, saya baru tersadar ini gempa, saya lari keluar dari kamar saya.

Dan bukan hanya saya, seluruh santri berhamburan keluar dari kamar masing-masing dan santri yang berada di tingkat dua parah lagi, mereka berdesak-desakan di tangga untuk turun ke bawah. 

Setelah merasa aman, kami masuk ke kamar masing-masing. Dan saya langsung membuka facebook untuk mencari info daerah mana saja terasa gempanya. Saat itu saya melihat cukup banyak yang memposting status gempa, jadi hampir seluruh aceh merasakan gempa. dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata daerah pidie saya ternyata rusak parah, saat masih subuh sudah ada orang yang mengunggah foto bangunan roboh, yahh karena masih subuh gambarnya masih tidak jelas, banyak yang gelap. Paginya mulai banyak orang yang mengunggah foto yang lebih jelas lagi.

Dan waktunya paginya kami baru mengetahui bahwa kerusakan di Pidie Jaya cukup parah dan banyak menelan korban. Penyebabnya karena pusat gempanya di pidie jaya, ditambah lagi pusat gempanya di darat dan termasuk dangkal.

Saat seperti ini medsos seperti facebook cukup punya andil dalam menyebarkan berita dengan cepat ke seluruh daerah, bahkan mengalahkan situs-situs berita, ini merupakan hal yang positif. Tapi kadang kalanya medsos itu menyebalkan yaitu ketika cukup banyak berita hoax yang tersebar.

Saya tinggal di Aceh Utara; 129,4 km jauh dari pidie jaya. dan daerah kami aman-aman saja, tidak ada bangunan yang roboh.

Kepanikan

Saat  itu akun facebook bmkg memposting status gempa, dan dalam postingannya pihak bmkg sudah mengatakan bahwa gempa ini tidak berpotensial tsunami. Namun cukup banyak orang yang berkomenar “apakah berpotensi tsunami?” saya heran apa ini orang tidak membaca status yang dibagikan bmkg dan langsung berkomentar.

Saya rasa semuanya karena kepanikan yang luar biasa dan masih tersimpan trauma masa lalu. Aceh pernah luluh lantak oleh tsunami yang terjadi usai gempa. Jadi saat gempa terjadi, banyak orang yang bukan takut  gempa, mereka takutnya tsunami.

11 Desember 2016

Pagi hari tersbut tepatnya sekitar pukul 10 pagi saya sedang mengajar, tiba-tiba terasa gempa yang kuat kami berlarian ke luar kelas. 

Setelah reda, saya berkata pada murid “ayook kita masuk kelas, kalau gempa lagi kita berlarian lagi”

Gempa susulan hanya itu saja, hari jum’at kemarin tanggal 9 desember juga terjadi gempa susulan. Walaupun saya sendiri tidak merasakannya, entah saya lagi tidur. 

Hingga kini saya sendiri belum merasa sepenuhnya aman, saya merasa waswas akan terjadi gempa susulan. 

Mohon doa dari teman-teman agar tidak ada lagi gempa susulan. 

Beberapa Kesalahan Dalam Olahraga Lari

Apa saja yang kita lakukan membutuhkan ilmu, untuk berolahraga juga butuh ilmu. Sebelum memutuskan berolahraga pastikan Anda sudah mengetahui cara olahraga yang benar. Tujuan olahraga itu sendiri untuk kesehatan, jangan gara-gara ketidaktahuan kita malah berubah menjadi petaka bagi badan kita.
Selama ini saya memperhatikan ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh sebagian orang ketika berolahraga, apa saja itu? Baca lebih lanjut