Ruang Privat dan Ruang Publik

Setelah menamatkan novel Bumi karangan Tere Liye di aplikasi ijak saya sangat penasaran dengan sekuel lanjutannya “Bulan”. Sayangnya di aplikasi ijak tidak tersedia, 0 copy. 

Saya tidak menyerah begitu saja, saya mencari di pustaka daring lainnya. Mulai dari ijogjakarta, imedan, iprobolinggo, ikaltim hingga ipusnas. Benar-benar gila. 

Ketika tidak menemukan novel yang dimaksud saya langsung menghapus aplikasi dan mendownload aplikasi pustaka lainnya. 

Hingga akhirnya saya mendarat di ipusnas , saya langsung mengketik ‘Tere Liye’ di kolom pencarian, namun saya kecewa ternyata di ipusnas juga 0 copy. Tapi kekecewaan saya terbayar ketika menemukan novel Tere Liye yang lainnya “Kau dan Sepucuk Angpau Merah”, bahkan saya menemukan novel Muara 1 tujuan dimana dua dari trilogi novel ini sudah saya baca.

“Bagus juga nih pustaka” gumam saya ketika melihat buku-buku yang tidak ada di aplikasi ijak.

Berfungsinya kolom pencarian sangat menguntungkan bagi saya, beda dengan pustaka pustaka yang lain di mana tombol pencarian tidak berfungsi hanya ijak yang benar-benar berfungsi. 

Saya iseng-iseng mengetik keyword ‘Hernowo’ dan hasilnya cukup mengejutkan, ternyata cukup banyak buku pak Hernowo di ipusnas. 

Saya kenal nama penulis ini karena pernah membaca bukunya yang berjudul “Langkah Mudah Membuat Buku Yang Menggugah”. Dan saya juga rutin membaca tulisannya di catatan facebook. 

Saya memilih sembarang buku karena tidak tau buku mana yang bagus. 

Dari banyak tulisan dibukunya banyak yang tidak saya pahami apa maksudnya, ketika saya tidak memahami saya langsung melewatkannya.

Dan ada juga beberapa gagsan yang cukup menarik bagi saya. Salah satunya mengenai menciptakan ruang privat dan ruang publik dalam menulis. 

“Tulisan itu tidak sekali jadi” tulisnya. 

Pertama kali kita harus menulis di ruang privat, dalam tulisan yang lainnya ia mengistilahkan “menulis untuk diri sendiri”. Ketika menulis dalam ruang privat ini kita mencurahkan semua ide yang kita miliki tanpa terikat oleh tetekbengek aturan bahasa. Menulis dalam ruang privat ini membuat kita bebas-sebebasnya tanpa tertekan dengan penilaian orang lain. 

Kedua ruang publik, setelah tulisan siap di ruang privat ketika kita membacanya pasti tidak teraturan, bahasanya cukup jelek. Dan setelah itu baru mengeditnya untuk publik. 

Kalau pertama kali langsung menulis untuk publik membuat ide kita tertahan, kita merasa tertekan dengan penilaian orang lain. Takut dianggap jelek sehingga membuat kita mengurungkan niat menulis. 

Saya juga penah mengalami hal seperti ini. Kalau saat membuat tulisan tujuannya untuk dipublish di blog pasti tulisan saya akan terhambat, tidak mengalir bahkan cukup sering berhenti di tengah jalan. 

Dan saya mencoba mempraktekkan teori pak hernowo, pertama menulis di ruang privat. Yah memang benar tulisan saya lancar dan saya merasa tidak tertekan ketika menulis. 

Setelah itu baru tulisan saya saya keluarkan ke ruang publik. Saat itulah saya baru melakukan pengeditan atau mengatur tulisan saya. 

Dan banyak lain gagasan-gagasn pak hernowo lainnya, mungkin kali lain akan menceritakannya. 

Iklan

Belajar dari Keteguhan Lucy Menjadi Penulis (Fairy Tail Episode 276)

Fairy tail episode zero berakhir sudah,  sekarang marilah kita menatap masa yang sedang kita hadapi. Pahit atau bahagianya masa lalu biarlah menjadi cermin masa depan kita.

Episode kali ini secara keseluruhan menceritakan tentang Lucy.
Pada mulanya menceritakan tentang Lucy yang menjadi model pakaian dalam namun ia tidak menikmati pekerjaan ini, kemudian ia memberanikan mengungkapkan keinginan menjadi seorang penulis pada Jason, salah seorang staf majalah mingguan sorcerer.
image

Mulai disinilah digambarkan perjuangan Lucy menjadi seorang penulis, berkali-kali tulisannya ditolak oleh Jason, namun ia tidak pernah murung menghadapinya. Ia menghadapi semuanya dengan senyuman.
image

Hal lain yang sangat berkesan bagi saya, sepulang dari kerja sesampainya di rumah ia kembali berlatih menulis padahal sudah lelah bekerja seharian.
image

Lalu apa tujuan Lucy menjadi penulis di majalah mingguan sorcerer? Ia ingin mengumpulkan semua informasi keberadaan teman guildnya fairy tail.

Ada banyak hal yang bisa saya ambil pelajaran dari episode kali ini.
1. Jangan Pernah Ragu Untuk Raih Impianmu

Coba lihat Lucy dari profesinya sebagai model ia tak ragu beralih menjadi penulis yang penuh rintangan. Kalau kamu sudah menetapkan ingin menjadi seorang penulis atau blogger sukses jangan pernah ragu terhadap apa yang kamu impikan. Walaupun tak harus seperti Lucy meninggalkan pekerjaan untuk menjadi seorang penulis. Setidaknya kita bisa memaksimalkan segenap waktu kita untuk berlatih menulis dengan memangkas kegiatan-kegiatan yang tak berguna.

2. Menjadi penulis butuh proses panjang

Tak seperti candi prambanan yang konon dibangun dalam semalam, menjadi penulis butuh proses yang lama. Kegagalan demi kegagalan haruslah dihadapi dengan senyuman.

3. Tak Pernah berhenti belajar

Menjadi seorang penulis haruslah tekun dan belajar terus menerus

4. Milikilah Tujuan

Dengan memiliki tujuan yang jelas maka kita akan memiliki semangat yang tinggi. Semangatnya bisa bermacam, bisa berbagi ilmu untuk orang lain atau mencari pemasukan lewat kegiatan menulis.

Santri dan Semangat Menulis

Minat menulis di kalangan santri dayah Aceh masih tipis dibandingkan dengan pesantren-pesantren yang ada di pulau jawa. Mereka begitu semangat menulis setiap tahun selalu ada buku yang diterbitkan.
Untuk membudayakan menulis bukanlah hal yang mudah, lihat saja status facebook masih saja hasil copy paste milik orang lain atau bila tidak copy paste statusnya cuma curhat lima kata. Misalnya “mau tidur”, “mengajar ngaji dulu”. Padahal facebook bisa dimanfaatkan untuk media pembelajaran menulis. Hari ini status satu paragraf, besok kembangkan menjadi dua paragraf hingga seterusnya. Dan terus meningkatkan kualitas tulisan.
Ketika menulis status di facebook sudah lancar coba naik tingkatan menjadi seorang blogger. Untuk permulaan coba blog gratis dulu. Dan rasa menulis di blog berbeda dengan menulis di facebook. Menulis di blog dituntut tulisannya panjang, kan tidak mungkin tulisannya cuma satu paragraf.
Menulis itu punya tingkatan, bukan baru sebulan menulis langsung menerbitkan buku, langsung tulisannya di terima di media cetak mana ada, coba tanya saja penulis yang hebat apakah mereka bisa menjadi penulis dalam satu hari.
Lalu apa yang saya tulis? Ini pertanyaan yang paling tanyakan oleh penulis pemula (saya pemula juga… Hehehe), tulis apa yang anda kuasai.
Kalau saya menulis apa yang saya alami,, yang saya tau.
Untuk langkah awal, coba rutinkan dulu menulis diary, tidak usah dipublikasikan. Misalnya begini “Tadi pagi saya pergi ke Keudee krueng geukuh, tiba-tiba pas sampai di simpang peut Kr Geukuh ada orang tertabrak di depan mata saya”.
Tulis saja apa yang kamu alami, jangan pedulikan bahasanya jelek, toh hanya kita yang membaca.
Sebagai santri yang mendalami masalah agama, coba berlatih menulis menulis masalah agama. Untuk permulaan coba dulu yang ringan-ringan yang kita kuasai contohnya fadilah Shalat jamaah, fadhilah Shalat zuha.
Tentunya dalam tulisan tulisan ada hadis-hadis di kita cantumkan yang membutuhkan terjemahan, jangan pernah terjemahannya di cari di google lalu di copy paste. Cobalah untuk menerjemahkannya sendiri, ini juga bagian dari latihan.
Lama-lama ketika menulis sudah sangat lancar dan bahasanya sudah enak dibaca, baru mencoba menulis buku yang isinya hal yang kita kuasai, misalnya dengan judul “Siapa bilang talak 3 jatuh satu? ‘
Akhirnya hanya ini yang bisa share untuk Anda, saya juga masih pemula.
Mari kita sebagai membudayakan menulis.