Pengertian Mim I’mad

Pertanyaan:

Mim yang ada pada هما atau كما adalah mim i’mad, bagaimanakah pengertian i’mad?

Jawaban:
I’mad secara bahasa berarti pegangan. Lantas bagaimanakah pengertian mim i’mad. Mim i’mad adalah mim yang menjadi pegangan (pedoman) bagi si mutakallim untuk menolak ketidak jelasan antara alif tasniah dengan alif yang lainnya. Dengan adanya mim tersebut berarti alif itu adalah alif tasniah.
Seandainya pada هما atau كما tidak ada mim i’mad maka kita tidak akan tau apakah alif yang yang ada pada isem dhamir tersebut apakah alif tasniah atau bukan.

Referensi:
Syarah Kafrawi a’la Matn Jarumiyah Halaman 59

Iklan

Almansubatu Khamsata Asyara: Sebenarnya jumlah Keseluruhan Berapa?

Salah satu kitab ajar saya malam ini yaitu jarumiyah. Dan merupakan pertemuan ketiga kitab jarumiyah setelah libur puasa kemarin. Malam ini membahas masalah maf’ul bih. Seperti biasanya sebelum memasuki dalam inti pembahasan saya memulai terlebih dahulu dengan mukaddimah sembari mengaitkan dengan pembahasan yang lalu.
“Salah satu isem mansub dari 15 isem mansub yang disebutkan oleh musannif dalam bab terdahulu adalah maf’ul bih” jelas saya.
Tiba-tiba salah seorang santri saya, Zainal Khatmi namanya menyanggahnya “tapi dalam bab yang terdahulu Tgk Musannif hanya menyebutnya sebanyak 14.”
Saya sempat heran, sangat jelas musannif mengatakan “Almansubatu Khamsata Asyara” masak keseluruhannya 14. Saya mencoba menghitung kembali dan menyuruh mereka juga menghitungnya. Ternyata benar jumlah keseluruhannya empat belas.
Akhirnya saya menjawab “Pada pertemuan akan datang insyaallah saya jawab, saya lihat dulu bagaimana penjelasan syarahnya”.
Ini adalah pertanyaan yang seharusnya ditanyakan pada bab yang lalu baru sekarang. Setidaknya membuktikan terkadang kita benar-benar kurang teliti dalam mengajar.

image

Kitab Aljarumiyah bab mansub isim

Saya penasaran dari mana bermula pertanyaan ini. Apakah pertanyaan dari kelas-kelas satu yang lain atau murni dari mereka.
Seusai mengajar saya langsung mencari jawabannya dengan membaca dari syarahnya. Dari banyak syarahnya yang ada di kamar saya, pilihan saya jatuh pada kitab “Tasywiqul Khillan” karena banyak isykal-isykal (pertanyaan) serupa ini yang saya temukan dalam kitab ini.
Dan ternyata memang benar dalam kitab ini ada disebutkan isykal tersebut sekaligus kemungkinan jawabannya.
Untuk jawabannya Anda bisa merujuk sendiri pada kitab tersebut halaman 190.Terlalu panjang untuk mengutipnya.

image

Jawabannya terdapat dalam kitab tasywiqul khillan

Dari jawaban-jawaban yang diberikan tetapi tetap berdasarkan husnuzzdhan (prasangka baik) terhadap musannif.
Berbeda dengan sikap sebagian orang di zaman kita karena sifat takabbur (baca, menganggap dirinya lebih baik) dengan lantang melabelkan jumud dan bodoh terhadap ulama terdahulu.