Ummi Maktum dan Kita 

Surat Abasa turun disebabkan oleh nabi bermasam muka ketika didatangi oleh ummi maktum. Dan saya tidak ingin membahas masalah kenapa nabi sampai bermasam muka. 

Saya ingin membahas dari sisi lain, tujuan kedatangan ummi maktum. 

Sebenarnya apa tujuan dari ummi maktum menjumpai nabi? 

Pada ayat selanjutnya Allah mengatakan “Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”

Jadi ummi maktum menjumpai nabi untuk meneguk beberapa ilmu dari nabi. 

Lalu kenapa? 

Coba bayangkan kondisi ummi maktum ketika ingin berjumpa dengan nabi, beliau dalam keadaan buta. 

Apakah ummi maktum berjalannya adanya penuntun atau tidak? Saya tidak mengetahuinya, yang jelas dengan kondisi tersebut sangat menyulitkan ummi maktum. Namun keterbatasan yang beliau tidak lantas membuatnya tidak bersemangat dalam menuntut ilmu. Beliau tidak peduli dengan keterbatasan, hausnya ilmu membuat keterbatasan bukanlah sebuah kendala. 

Lalu bagaimana dengan kita? Kita punya seribu alasan untuk tidak menghadari majlis ilmu, “tidak punya waktulah, “ngantuk lah” dan seabrek alasan lainnya. Padahal Allah masih memberikan nikmat mata untuk kita, yang membuat kita lebih mudah menghadiri majlis ilmu.

Syukur adalah seorang hamba yang mempergunakan semua nikmat yang diberi oleh Allah pada tempat tujuannya diciptakan hamba tersebut. Allah menciptakan hambanya agar si hamba menyembah Nya. Maka semua nikmat harus dipergunakan dalam rangka menyembah Allah. 

Menghadiri pengajian menurut saya adalah salah satu wujud syukur. 

Iklan

Musibah Antara Sabar dan Syukur

Kapan harus bersyukur? Kita wajib bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan, baik kenikmatan dunia maupun kenikmatan agama.

Ulama memperbincangkan mengenai kesusahan dan musibah di dunia, baik pada jiwa, keluarga ataupun harta Apakah wajib atas hamba mensyukuri atas kesusahan dan musibah tersebut?  Baca lebih lanjut

Bersiwak 

Ketika hendak shalat kita disunnahkan terlebih dahulu bersiwak, hal ini berdasarkan hadis yang diriwatkan oleh Humaidi yang bahwa nabi berkata

 “Dua rakaat (shalat) dengan siwak terlebih afdhal (baik) ketimbang 70 rakaat tanpa siwak”

Ancaman Bagi Orang Yang Menyembunyikan Ilmu

​Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyi-kan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila`nati Allah dan dila`nati (pula) oleh semua (makhluk) yang melaknat. (Qs. Al Baqarah Ayat 159)  

Ayat ini turun mengenai orang yahudi yang menyembunyikan ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada mereka seperti ayat rajam dan ayat yang menjelaskan sifat nabi Muhammad. 

Walaupun ayat ini turun untuk orang yahudi tetapi ancaman ini berlaku untuk umum yaitu bagi setiap orang yang menyembunyikan ilmu. 

Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda “Barangsiapa ditanyai tentang satu ilmu lalu ia menyembunyikan niscaya Allah mengekangnya di hari kiamat dengan kekang yang terbuat dari api neraka” (HR Ibnu Hibban dan Hakim) 

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jauzi Rasulullah bersabda “Orang yang menyembunyikan ilmu dilaknat oleh seluruh makhluk hingga ikan di laut dan burung di udara

Semoga saja kita tidak termasuk dalam orang-orang yang menyembunyikan ilmu. 

Orang-Orang Yang Sabar

Orang yang sabar adalah mereka yang ketika mendapatkan musibah mengucapkan “kami milik Allah dan kami akan kembali kepada Allah” (Qs. Al Baqarah: 156)

Ayat ini dengan gamblang menjelaskan sunnah membaca “inna lillahi wa inna ilahi raji’un” ketika mendapatkan musibah. 

Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda “Barangsiapa mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi raji’un” ketika mendapatkan musibah niscaya Allah akan memberi pahala kepadanya pada musibah tersebut dan Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik” 

Maksud “Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik” pergantian tersebut bisa saja di akhirat atau pergantiannya di dunia dan akhirat. 

Dalam hadis lain dijelaskan “Bahwa pelita nabi padam maka nabi mengucapkan “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un. Berkata Aisyah “Ini cuma Pelita”. Rasulullah menjawab “setiap hal yang menyusahkan orang beriman itu termasuk musibah”

Dari hadis ini dapat kita pahami sunnah mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un bukan hanya ketika mendengar kabar duka meninggal seseorang, tetapi pada setiap musibah. Dan yang dimaksud dengan musibah hal-hal yang menyusahkan orang beriman, dalam hadis tersebut Rasulullah cuma pelita padam mengucapkan kalimat tersebut. 

Baca juga

Doa Seusai Wudhu’

Setelah berwudhu’ kita disunatkan membaca dua kalimat syahadat sambil menghadap kiblat dan mengangkat tangan (seperti saat berdoa) serta mata memandang ke arah langit. 

Kesunnahan ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Barang siapa berwudhu’ dan sesudahnya membaca “Asyhadu An La ilaha illallah wahdahu la syarika lah wa asy ahduanna muhammadan a’bduhu warasuluh” maka akan dibukakannya baginya semua pintu surga yang delapan yang mana ia bisa memasukinya dari mana saja pintu yang ia kehendak”

Tidur Membatalkan Wudhu’

Salah satu perkara yang membatalkan wudhu’ adalah tidur. Dalil yang menyatakan bahwa tidur membatalkan wudhu’ yaitu hadis sahih “Mata adalah pengikat dubur (pantat). Barang siapa yang tidur hendaklah ia berwudhu”

Maksud dengan dua mata dalam hadis ini keadaan terjaga. Keadaan terjaga menjadi penjaga dari keluarnya sesuatu dari dubur. 

Kelebihan Salat Sunat Wudhu’

Seusai berwudhu’ kita disunatkan melakukan shalat sunat wudhu’ dua rakaat. Hal ini berdasarkan hadis “Bahwasanya Rasulullah memasuki surga, dan Rasulullah melihat Bilal di dalam surga, Rasul bertanya pada Bilal “dengan apa engkau mendahului aku memasuki surga?”. Bilal menjawab “Aku tidak mengetahuinya kecuali bahwasanya saya tidak pernah berwudhu’ kecuali aku shalat dua rakaat sesudahnya”

Pembagian Sabar dan Tingkatannya

Sabar itu terbagi 3

1. Sabar atas taat dengan cara selalu mengerjakan perbuatan taat

2. Sabar dari maksiat dengan cara terus menerus meninggalkan perbuatan maksiat. 

3. Sabar atas bala atau musibah. 

Sabar yang paling tinggi kedudukannya yaitu sabar dari kemaksiatan, dan urutan dibawahnya sabar atas taat dan urutan paling rendah adalah sabar dari bala’

Urutan sabar ini berdasarkan hadis “Bahwasanya orang yang sabar dari bala’ niscaya Allah mengangkatnya tiga ratus tingkatan, antara tiap dua tingkatan seperti langit dan bumi. Dan orang yang sabar atas terus menerus mengerjakan taat niscaya meninggikan oleh Allah enam ratus tingkatan, antara tiap dua tingkatan  seperti dua kali langit dan bumi. Orang yang sabar dari maksiat niscaya Allah meninggikannya sembilan ratus tingkatan, antara tiap dua tingkatan seperti tiga kali langit dan bumi.”

Godaan Setan

Dalam banyak ayat Allah telah menjelaskan bahwa setan itu musuh manusia

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Qs. Al Baqarah ayat 168

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita telah mendeklarasikan diri sebagai musuh setan atau malah berteman dengannya?
Baca lebih lanjut