Nasehat Abu Paloh Gadeng

Seusai shalat tarawih saya buru-buru keluar mesjid, penyebabnya saya kehausan namun tiba-tiba ada pengumaman bahwa jamaah jangan keluar dulu sebentar ternyata Abu Mustafa ingin memberi beberapa nasehat. Saya kembali duduk dan mendengarnya dengan seksama. Baca lebih lanjut

Iklan

Cara Rasulullah Menyambut Sepuluh Akhir Ramadhan

Ramadhan sudah di penghujung, kita sedang berada dalam sepuluh akhir ramadhan. Bagaimanakah Rasulullah menyambut sepuluh akhir ramadhan?
أنه صلى الله عليه وسلم كان يجتهد في العشر الأواخر ما لا يجتهد في غيرها
“Rasulullah saw beliau bersungguh-sungguh padamu sepuluh akhir  sesuatu yang beliau tidak bersungguh-bersungguh pada selainnya”

Bagaimana dengan kita? Makin akhir main loyo saja, jamaah tarawih semakin saja berkurang.
Dalam hadis lain dijelaskan,
أنه صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل العشر الأخير أحيا الليل كله وأيقظ أهله وشد المئزر
Bahwasanya Rasulullah apabila masuk sepuluh yang akhir, beliau menghidupkan seluruh malam. Beliau membangunkan keluarganya dan beliau mengikat tali ikat pinggang beliau”

Makna “mengikat tali ikat pinggang” adalah kiasan dari kesungguhan beribadah.

Bandingkan dengan kita, memasuki sepuluh akhir ramadhan kita juga bersemangat tapi semangat dalam belanja baju baru, semangat mengganti cat rumah, semangat membuat kue kalau yang ibu-ibu. Beribadah? Tidak bersemangat sama sekali. Beginilah sikap orang yang meneladani Rasulullah?

Menggapai Malam Lailatul Qadar

Tidak terasa ramadhan memasuki hari ke 19, satu hari lagi kita akan memasuki malam sepuluh terakhir. Di mana sih istimewanya malam sepuluh terakhir? Keistimewaannya karena pada malam sepuluh terakhir ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam qadar.

Allah berfirman dalam surat Al-Qadar
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampaiterbit fajar.

Kapankah malam kadar? Menurut pendapat jumhur malam Lailatul qadar terbatas pada sepuluh akhir. Malam yang paling diharapkan adalah malam-malam ganjil sepuluh yang akhir. Menurut imam Asy Syafie dari malam-malam ganjil yang paling diharapkan adalah malam 21 dan 23. Menurut imam Nawawi dan yang lain malam Lailatul Qadar malamnya berpindah-pindah.
Malam qadar adalah malam terbaik setahun.

Dalam hadits Rasulullah menjelaskan
من قام ليلة القدر إيمانا وإحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa yang mendirikan malam kadar dengan keimanan dan mengharap ridha Allah niscaya diampunkan baginya dosa yang telah terdahulu”
Dalam riwayat yang lain “dan dosa yang terkemudian”

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan
من صلى المغرب والعشاء في جماعة حتى ينقضي شهر رمضان فقد أخذ من ليلة القدر بحظ وافر
“Barangsiapa yang shalat magrib dan isya berjamaah sehingga habis bulan ramadhan maka ia sungguh telah mengambil bagian yang sempurna dari malam kadar”

Memahami dari hadis yang diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi tidak sulit untuk menggapai bulan qadar tinggal beribadah sepanjang bulan ramadhan, maka kita akan mendapatkan malam kadar. Jadi untuk mendapatkan keutamaan malam qadar tidak disyaratkan kita harus mengetahui malam tersebut adalah malam qadar.

Tapi ironis yang kita lihat sekarang di mesjid mesjid dan meunasah meunasah, semakin terakhir malam ramadhan makin sedikit jamaah shalat, padahal makin terakhir makin besar keutamaannya.
Kalau yang ibu-ibu sudah sibuk dengan membikin kue.
Mereka telah mengabaikan malam yang sangat mulia.

Adakah keutamaan meninggal dalam bulan ramadhan ?

“Neu peu matee loen lam ta’at malam jum’at buleun ramadhan” begitulah doa yang kerap kali di ucapkan sebagian orang.
Tadi jum’at khatib di Mesjid Al-Ikhlas Teupin Punti tidak setuju dengan doa ini, alasan beliau karena bulan ramadhan adalah bulan yang mempunyai banyak kelebihan, sepantasnya kita pergunakan beribadah bukan untuk mengharapkan meninggal. “Saya tidak suka meninggal dalam bulan ramadhan, saya ingin dihidupkan hingga habis ramadhan, saya ingin beribadah dalam bulan ini”.
Wacana khatib ini sangat menantang, lalu yang cari di google dengan keyword “meninggal dalam bulan ramadhan”, hasilnya memang banyak pertanyaan yang senada, dan jawabannya pun senada “Tidak ada hadis yang sahih yang menjelaskan keutamaan meninggal di bulan Ramadhan”.
Saya belum puas dengan jawaban ini, saya ingin memastikan apakah memang benar tidak ada keutamaan meninggal dalam bulan ramadhan?
Menurut Anda semua bagaimana?

Sebagaimana diwajibkan atas umat terdahulu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَعَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Dari ayat di atas jelas kepada umat yang terdahulu juga diwajibkan berpuasa tetapi puasa yang bagaimanakah diwajibkan kepada orang yang terdahulu? Samakah dengan puasa kita nabi Muhammad? Pada kesempatan kali ini saya ingin mengulas pembahasan ini kepada Anda semua.
Pada masalah ini ulama khilaf pendapat, ada yang mengatakan puasa bulan ramadhan merupakan kekhususan umat nabi Muhammad. Maka berdasarkan pendapat ini penyerupaan puasa kita dengan puasa orang-orang terdahulu dari segi sama-sama puasa bukan dari kadarnya atau zamannya.
Ada satu pendapat lagi yang mengatakan puasa ramadhan bukanlah kekhususan umat nabi Muhammad. Berdasarkan pendapat ini penyerupaan dalam ayat diatas memang hakiki, maksudnya umat terdahulu juga pernah diwajibkan berpuasa namun mereka mengubahnya.