Ta’rif Mudha’af: Kesalahan dalam Menerjemahkan 

Artikel ini bukan bermaksud menggurui sebagian orang, hanya bertujuan meluruskan apa yang saya anggap sebuah kesalahan menurut saya. Jadi bila Anda tak setuju dengan saya, itu hak Anda karena semua ini hanya pemikiran saya, boleh jadi benar dan tidak tertutup kemungkinan salah. 

Kali ini saya ingin menjelaskan kesalahan sebagian orang dalam menerjemahkan ta’rif mudha’af dalam kitab salsil madkhal. 

 Lebih jelasnya coba Anda perhatikan gambar dibawah

Yang membuat kebingungan bagi sebagian orang pada ta’rif mudhaaf yaitu pada kata ‘muqabila’.

Kesalahan sebagian orang karena menganggap “muqabila” dalam pengertian tersebut sebagai isem yang mansub sehingga ia menduga-duga sebuah i’rab yang nyatanya salah.

Ada yang menjadikannya sebagai maf’ol bih, ada yang menjadikannya hal. Bahkan ada yang ekstrem mengatakan bahwa muqabila itu kesalahan cetak, yang benar “muqabilu”tanpa ada alif sebagai fael dari tajanasa. 

Menurut saya, kesalahan tersebut karena menganggap alif yang ada pada muqabila sebagai alif isyba’ dan muqabila sebagai isem mansub. 

Sebenarnya alif yang ada pada “muqabila” tersebut merupakan tanda rafa’ dan muqabila itu isem yang marfu’sebagai fail dari “tajanasa” dan ia isem tasniah, karena di idhafahkan maka nun tasniahnya dibuang. 

Maka kalau kita terjemahkan secara bebas begini “mudhaaf merupakan fiil yang samalah dua huruf yang setentang ain fi’il dan dan lam fi’il”.

Iklan

Mengatasi Murid Tidur di Kelas

Salah satu hal yang tidak saya sukai saat mengajar ada murid yang tidur di kelas. Tidur saat pelajaran sangat merugikan bagi si murid tersebut, dengan tidur ia tidak mendengar pelajaran sehingga pertemuan besoknya saat melanjutkan pembahasan kemarin hari ia malah bengong, tak tau asal masalahnya.
Baca lebih lanjut

Pamit

Izinkan aku pergi

Yang Tersisa hanya

Tak lagi ku milikmu

Kau masih bias melihatku

(Tulus)

Saya bukan bermaksud mau ngomongin tentang lagu Tulus  ini karena saya tak mahir membahas masalah lagu. Kali ini saya ingin menceritakan tentang murid saya, sebenarnya tentang fenomena di kalangan santri yang saya jumpai di pesantren-pesantren Aceh. Baca lebih lanjut

Kendala Mengajar Kitab Tauhid Untuk Kelas 2

Pada tulisan yang lalu telah saya ceritakan salah satu kelas saya mengajar yaitu di kelas 2 B. Hingga sekarang tak ada kendala yang begitu berarti cuma ada sedikit rintangan bagi saya saat mengajar kitab tauhid.
Kitab tauhid yang diajarkan dikelas 2 ada dua kitab, kitab Matan Sanusi dan Tijan Dariri. Cuma saja kalau kitab matan sanusi diajar saat pengajian zuhur, kalau waktu malam kitab Tijan Darari.

Baca lebih lanjut

Tertinggal Shalat Jamaah

Iqamah pun sudah dikumandangkan, saya bergegas menuju ke mesjid. Dalam perjalanan menuju ke mesjid, tiba-tiba saya melihat selembar Alquran yang terletak di atas tanah, saya mengambilnya, saya bingung mau di bawa kemana nih lembaran Alquran. Akhirnya saya kembali ke bilik untuk meletakkan lembaran Al-Quran itu biar aman.
Saya kembali bergegas kembali menuju ke mesjid, sudah sampai setengah perjalanan ada yang memanggil “Tgk.. Pan” saya pun menoleh, ternyata Tgk Sayed, saya pun mampir di kamarnya, ternyata ia ingin memberikan oleh-oleh berupa air zamzam dan sebuah tasbih. Ia baru saja pulang berumrah ke tanah suci. Saya mengucapkan terima kasih, saya merasa bingung mau di bawa ke mana ini, di bawa ke mesjid saja? Ah.. saya kembali ke kamar untuk menyimpan air zamzam dan tasbih.
“pue ka meu puta-puta” ujar Tgk iqbal teman sekamar saya saat membuka membuka pintu kamar. Saya meletakkan air zamzam dan kembali bergegas ke mesjid.
Setibanya di tempat wudhu, saya mendengar suara tahlil di mesjid yang berarti menandakan shalat jamaah sudah usai.
Saya tertinggal jamaah asar, saya rela walaupun hati kecilku mengatakan tidak, toh demi mengamankan selembar Alquran yang saya lihat tergeletak di atas tanah. Saya tak tega membiarkannya begitu saja, bukankah Al-quran itu harus dimuliakan.
Lagi pula tertinggal jamaah asar salah saya sendiri, saat azan berkumandang saya masih santai-santai saja. Kenapa tidak saya bergegas sejak itu? Kenapa harus ketika iqamah baru terburu-buru? Setidaknya menjadi pelajaran bagi saya, kalau memang ingin mendapatkan jamaah harus bersiap-siap dari awal.
Tertinggalnya jamaah merupakan sebuah musibah menurut ulama-ulama terdahulu. Kita saja yang terlalu mengenteng-entengkannya.
Ohhh.. Ya dalam seminggu ini saya sudah dua kali mendapatkan oleh-oleh air zamzam, kemarinnya dari murid saya..

Jenis-Jenis ta’zir Saat Murid Tak Mengaji

Entah kenapa setiap saya berencana menulis sesuatu, saya terlebih dahulu bingung. Bagaimana saya harus membuka tulisan agar orang-orang menarik membacanya.. Ahh… dari pusing memikirkannya mari kita beralih ke pembicaraan lain.

oohh…ya,, pada kali ini saya ingin menceritakan pengalaman mengajar saya selama 4 tahun ini terutama mengenai mengatasi santri-santri yang malas naik ngaji.

Saya selalu marah melihat santri naik ngaji. Kalau santri bodoh tidak naik ngaji, saya berujar dalam hati “sudah bodoh malas lagi, kapan pintarnya?”.. Kalau santri pintar tak naik ngaji terbersit dalam hati saya, “emang hebatnya sudah seberapa?” .. hahaha

Bila saat saya yang mengajar ada santri yang tak naik ngaji, siap-siap saja untuk menerima hukuman. Hukuman yang saya berikan beragam, diantaranya:

1. Berdiri di Kelas
Bagi sebagian santri hukuman seperti ini ada yang efektif dan ada juga yang biasa-biasa saja. Santri yang tak jera dengan hukuman seperti ini saya memilih hukuman yang lain untuknya.
Durasi hukuman ini biasanya mulai dari pengajian berlangsung hingga habis.

2. Mengutip Sampah
Hukuman model seperti punya nilai lebih. Bisa menjadi efek jera sekaligus membersihkan dayah

3. Membersihkan Wc
Biasanya hukuman seperti memberikan efek sangat jera, siapa sih yang mau membersihkan wc..

Itulah hukuman-hukaman yang sering saya berikan bila santri tak naik ngaji

Diyat!! Bukan diet

Malam ini pengajian perdana kelas saya setelah libur panjang ramadhan.
Santri kelas saya belum semuanya balik ke dayah, malam ini ada sekitar 15 murid.
Walaupun malam perdana saya tetap mengajar seperti biasanya dengan tiga pelajaran.
Kitab pertama yang saya ajar malam ini yaitu fiqah mengenai masalah pembunuhan dan sanksinya. Saya menjelaskan bahwa bila pembunuhannya sengaja maka hukumnya qisas, seandainya keluarga si terbunuh memaafkan maka wajib membayar diat.
Lantas salah seorang murid saya menanyakan “Teungku diyat itu menahan lapar ya?”. Saya heran, dan tak memahami maksud dari pertanyaannya. Tiba-tiba salah satu temannya menyahut “itu diet bukan diyat!”
Akhirnya saya hanya tersenyum saja.