Ta’rif Mudha’af: Kesalahan dalam Menerjemahkan 

Artikel ini bukan bermaksud menggurui sebagian orang, hanya bertujuan meluruskan apa yang saya anggap sebuah kesalahan menurut saya. Jadi bila Anda tak setuju dengan saya, itu hak Anda karena semua ini hanya pemikiran saya, boleh jadi benar dan tidak tertutup kemungkinan salah. 

Kali ini saya ingin menjelaskan kesalahan sebagian orang dalam menerjemahkan ta’rif mudha’af dalam kitab salsil madkhal. 

 Lebih jelasnya coba Anda perhatikan gambar dibawah

Yang membuat kebingungan bagi sebagian orang pada ta’rif mudhaaf yaitu pada kata ‘muqabila’.

Kesalahan sebagian orang karena menganggap “muqabila” dalam pengertian tersebut sebagai isem yang mansub sehingga ia menduga-duga sebuah i’rab yang nyatanya salah.

Ada yang menjadikannya sebagai maf’ol bih, ada yang menjadikannya hal. Bahkan ada yang ekstrem mengatakan bahwa muqabila itu kesalahan cetak, yang benar “muqabilu”tanpa ada alif sebagai fael dari tajanasa. 

Menurut saya, kesalahan tersebut karena menganggap alif yang ada pada muqabila sebagai alif isyba’ dan muqabila sebagai isem mansub. 

Sebenarnya alif yang ada pada “muqabila” tersebut merupakan tanda rafa’ dan muqabila itu isem yang marfu’sebagai fail dari “tajanasa” dan ia isem tasniah, karena di idhafahkan maka nun tasniahnya dibuang. 

Maka kalau kita terjemahkan secara bebas begini “mudhaaf merupakan fiil yang samalah dua huruf yang setentang ain fi’il dan dan lam fi’il”.

Iklan

Target yang Meleset

Dalam perlombaan baca kitab fathul qarib dalam perayaan hari milad dayah Darul Huda ke 29 saya menargetkan bahwa kelas 2 B bisa memboyong dua juara; juara 1 dan juara 2.

Namun apa yang saya targetkan meleset. Kelas 2 B hanya berhasil memperoleh juara 3 dan juara 5. Walaupun demikian saya tetap merasa bersyukur karena berhasil memperoleh dua juara

Berikut ini hasil perlombaan baca kitab fathul qarib:

Juara 1 : Kelas II A

Juara 2 : Kelas II C

Juara 3 : Kelas II B

Juara 4 : Kelas II D

Juara 5 : Kelas II B

Total peserta yang mengikut lomba baca kitab fathul qarib sebanyak 8 peserta, setiap kelas mengirim 2 orang utusannya. 

Harapan saya untuk tahun depan, hasilnya harus lebih baik lagi. 

Harapan

Salah satu lomba yang diadakan untuk menyemarakkan hari milad Dayah Darul Huda Paloh Gadeng yaitu lomba membaca kitab antar kelas. Setiap kelas mengirim 2 utusannya untuk mengikuti perlombaan. Untuk kelas asuhan saya, kelas 2 B saya mengirim utusan Safwadi dan Ahmad Bayazid. 

Beberapa waktu lalu si safwadi ingin mengundurkan diri namun tidak saya bolehkan. Saya menyatakan pada mereka “ikut saja, jangan pikir untuk mendapatkan juara, ingat saja, ini ajang untuk mengetes mental tampil di depan umum”.

Alasan saya memilih mereka karena menurut saya merekalah yang unggul dalam menjelaskan kitab. Penjelasan mereka berdua kalau di kelas gamblang dan tidak berbelit-belit. 

Pupus 

Walaupun saya mengatakan pada mereka tidak mengharapkan mereka untuk mendapatkan juara, namun sebenarnya dalam hati kecil saya sangat menginginkan mereka mendapatkan juara. Saya sangat optimis bahwa mereka bisa mendapatkan juara bahkan saya sangat percaya diri bahwa kelas 2 B akan membawa pulang dua juara. Setelah melihat penampilan mereka harapan itu kandas, saya merasakan sangat kecil kemungkinan mereka meraih juara. 

Pertama, safwadi. Dalam tampilannya kemarin ia sangat kurang dalam segi pertanyaan. Ia hanya bisa menjawab satu pertanyaan dari tiga pertanyaan dewan hakim. Padahal dua pertanyaan lagi cukup mudah. Kalau dari segi baris, makna dan penjelasan bisa dibilang sangat bagus, walaupun ada penjelasan yang kurang tepat sedikit. 

Kedua, Ahmad Bayazid. Sama dengan si safwadi, hanya bisa menjawab satu pertanyaan. Dan yang sangat kurang dari penampilan bayazid ada penjelasan yang salah. 

Walaupun agak sedikit kecewa namun setidaknya menjadi pelajaran bagi saya. Sehingga saya tau di mana kekurangan-kekurangan mereka. Dan berusaha kedepannya lebih serius dan lebih baik lagi dalam mengajar mereka. 

Milad XXIX Dayah Darul Huda Paloh Gadeng

Apa sih pentingnya merayakan hari ulang tahun bagi sebuah dayah (baca, pesantren)? Bagi saya dengan merayakan milad kita bisa mengenang bagaimana susahnya merintis sebuah lembaga pendidikan. Dengan perayaan milad ini diharapkan segenap pengajar dan murid kembali termotivasi. 
Dayah Darul Huda Paloh Gadeng tahun ini sudah berusia 29 tahun. Dan sudah menjadi agenda tahunan dayah Darul Huda Paloh Gadeng yaitu mengadakan ulang tahun dayah. Kali ini panitia Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) dalam rangka memperingati hari ulang tahun dayah mengadakan beberapa acara dan perlombaan. Diantaranya:

1. Lomba Baca Kitab

Lomba ini terdiri dari dua kategori. Pertama, Lomba kitab antar cabang Dayah Darul Huda. Kedua, Lomba antar kelas Dayah Induk

Kitab yang diperlombakan untuk kategori cabang yaitu Fathul Qarib dan Fathul Mui’in. Untuk lomba baca kitab antar kelas kitab yang dilombakan kitab Jarumiyyah untuk kelas 1. Fathul Qarib bagi kelas 2. Sedangkan untuk kelas 3 dan 4 kitab fathul mu’in. Dan kelas 5 & 6 kitab mahalli. 

Salah seorang santri sedang menunjukkan kebolehannya dalam membaca kitab

2. Lomba Pidato 

Ini juga terdiri dari dua kategori, dayah cabang dan dayah induk. 

3. Lomba Dalail Khairat

Lomba ini hanya diikuti oleh qabilah-qabilah yang ada pada dayah induk


4. Lomba Cerdas Cermat

Lomba ini hanya untuk dayah cabang-cabang Darul Huda Paloh Gadeng. 


5. Lomba Tajhiz Mayat 

Acara lain yang diadakan oleh PHBI yaitu acara mubahasah yang rencananya akan dilaksanakan malam selasa ini

Kembali

Sudah 2 bulan saya tidak pernah memposting satu artikel di blog ini, ada sedikit rasa bersalah dalam hati kecil saya meninggalkan blog terbengkalai begitu saja. Hari ini saya benar-benar kembali mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan saya. Mencoba belajar menulis  lagi dari awal.

Kenapa saya meninggalkan blog begitu lama? Saya mempunyai beberapa alasan walaupun itu hanya pembenaran untuk menutupi rasa bersalah saya. 

1.Tidak Punya Waktu

Kesibukan saya mengajar dan belajar cukup menyita waktu saya. Apalagi dalam beberapa bulan ini saya memenjalani program penurunan berat badan yang mengaharuskan saya berolahraga yang tentunya juga memakan waktu. 

2.Smarphone saya rusak

Walaupun saya mempunyai laptop namun masih suka menulis dengan smartphone. Beberapa waktu yang lalu smartphone saya mengalami kerusakan membuat saya agak malas menulis. 

3. Malas

Alasan utama selama ini saya tidak menulis karena didera rasa malas dan saya tidak mencoba melawannya. 

Setelah sekian lama tidur panjang dari dunia tulis menulis, saya ingin benar-benar bangun dan tidak ingin tertidur lagi. Lalu apa alasan saya kembali menulis?

1. Support dari teman

Beberapa teman saya menanyai tentang blog saya, apakah ada tulisan baru? Dengan rasa berat saya menjawab bahwa selama ini saya tidak menulis. Juga abang saya yang sudah beberapa kali menyuruh saya untuk terus menulis. Inilah yang membuat saya kembali tergerak untuk kembali menulis. 

2. Menurunnya Kemampuan Menulis

Dengan meninggalkan menulis membuat kemampuan menulis semakin menurun karena kualitas tulisan akan meningkat bila kita melatihnya secara terus menerus. 

Semoga kali ini saya bisa benar-benar konsisten.