Cobaan Diet Kala Lebaran

image

Setelah jatuh bangun dalam menjalani diet, awal ramadhan kemarin saya kembali berkomitmen sepenuh hati untuk menjalani diet. Penyebabnya, pertama, saya sudah merasa lelah dengan semua bully yang saya terima mengenai badan saya. Baca lebih lanjut

Iklan

“Subhanallah….!”

Ada kejadian lucu semalam saat pelaksanaan shalat tarawih. Ceritanya begini, waktu itu shalatnya sudah sampai ke shalat witir rakaat kedua. Ketika imam akan duduk tasyahud akhir, tiba-tiba salah seorang makmum menegur imam dengan “subhanallah”. Baca lebih lanjut

Tampil Perfect itu Melelahkan

Namanya All Might, ia merupakan pahlawan terkuat dan simbol dari pahlawan. Kini ia mendapat tugas mengajar di sekolah SMA UAI, sekolah khusus untuk mendidik para pahlawan. All Might ditampilkan sebagai pahlawan yang cukup berotot seperti binarga. Wujud sebenarnya ia tak lebih dari manusia kurus dan kerempeng, penyebabnya ia telah menjalani menjalani beberapa kali operasi akibat luka yang dialaminya ketika melawan penjahat. Baca lebih lanjut

Godaan Setan

Dalam banyak ayat Allah telah menjelaskan bahwa setan itu musuh manusia

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Qs. Al Baqarah ayat 168

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita telah mendeklarasikan diri sebagai musuh setan atau malah berteman dengannya?
Baca lebih lanjut

Sepuluh Akhir

Seusai shalat asar hujan deras mengguyur paloh gadeng, hingga menjelang magrib masih ada sedikit rintik-rintik tapi masih meninggalkan becek yang amat bersangatan di tanah. Saya memutuskan untuk shalat di kamar saja, “ah.. becek juga termasuk ozor berjamaah” gumam saya dalam hati sembari membenarkan keputusan saya. Memang benar asrama saya dengan mesjid agak jauh walaupun masih dalam satu komplek pesantren, agak capek dengan keadaan seperti ini bolak-balik ke kamar untuk berbuka puasa.

Untuk menebus sedikit rasa penyesalan tadi, saya pergi untuk shalat tarawih awal sedikit. Kenapa sebegitunya? Yahh… karena malam ini memasuki malam 20 yang mana Rasulullah sangat bersungguh beribadat.

Loh koq malam ke 20? Karena di Aceh kemarin saat rukyah tidak nampak hilal maka kami berpuasa pada tanggal 7, tidak mengikuti pusat yang mana berbeda matali’ dengan aceh. Ada juga ulama aceh yang berpuasa tanggal 6 dengan alasan wajib mengikuti pemerintah.

Tadi jamaah tarawih semakin berkurang dari malam-malam belakangan. Semangat beribadah kita memasuki sepuluh akhir semakin loyo dan tidak bersemangat saja. Sangat berbeda dengan apa yang diberi contoh oleh Rasulullah. Beliau memasuki sepuluh akhir tidak keluar-keluar dari mesjid hingga hari raya nanti?.

Lalu kita?

#merenung

Darul Huda, 25 juni 2016

Tentang Gelas Yang Pecah

Masih cerita tentang gelap yang saya alami beberapa malam hari ini. Tadi malam kegelapan menelan korban, gelas saya pecah. Ceritanya begini, untuk menerangi kamar saya memakai lilin yang saya letakkan di atas kursi dan sebagai tumpuan lilin saya taruk gelas agar lilinnya sedikit tinggi.

Saat tidur lilinnya saya matikan, toh tidak ada manfaatnya menyala terus. Waktu bangun tidur tanpa sengaja tersenggol kursi dan jatuhlah gelas.

Dalam hati saya membatin “Andai saja gelasnya tidak saya letakkan di atas kursi mungkin tidak akan pecah”.

Tadi zuhur saya mengaji Alquran dan menemukan ayat yang mengena banget sama saya

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali ‘Imraan: 156)

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam keyakinan mereka yang rusak seperti yang tertuang dalam ungkapan mereka mengenai saudara-saudara mereka yang meninggal dalam perjalanan dan peperangan, “Seandainya mereka meninggalkan perang tersebut, pasti mereka tidak akan tertimpa musibah itu.”

Tentang gelas, saya seharusnya tak perlu berandai-andai “Andai saja saya tidak letakkan disitu”, memang sudah takdir dan waktunya pecah. Bagaimanapun tetap akan pecah.
Namun setidaknya menjadi pelajaran bagi saya agar lebih berhati-hati meletakkan barang yang bisa pecah.

Euforia Terang

Tau tidak kenapa sudah lama saya tidak ngeblog? Alasan pertama karena saya kehabisan kouta internet, Kedua, karena ini bulan ramadhan, lagi fokus untuk ngisi ibadat (semoga tidak riya), ketiga karena di tempat saya terjadi pemadaman listrik selama 6 hari berturut-turut. Sadis banget kan

Pesantren kami, Dayah Darul Huda Paloh Gadeng mendapatkan listrik cuma-cuma dari PT. PUPUK ISKANDAR MUDA (PIM), kami tentunya sangat bersyukur. Entah apa masalah dengan pabrik kemarin sehingga harus dilakukan pemadaman listrik mulai tanggal 19 s/d 25

Rasanya bagaimana? Saya marah, sedih, sebel semuanya bercampur aduk. Bayangkan biasanya saya saya masak pakai ricecooker kini terpaksa harus menanak nasi pakai kompor gas. Belum lagi kamar yang terasa panas tanpa ada kipas angin.

Namun saya sadar, bukan hanya saya yang mengalami hal ini, orang lain juga. Dan semua orang tak menginginkan keadaan seperti ini.

Semalam sekitar pukul 2.30 ada beberapa santri yang ribut di depan kamar saya,
“Listriknya sudah menyala..” ucap salah seorang mereka pada temannya. Mendengarnya saya bangun dengan tergopoh-gopoh ingin memastikannya. Iya memang benar listrik kembali menyala.

Saya merasa senang luar biasa, seolah beban yang cukup berat terhempas dari kepala.

Saya tersadar bahwa selama ini kurang mensyukuri nikmatnya terang. Bagaimakah dengan saudara kita yang terkadang hingga kini belum mendapatkan listrik?

Darul Huda, 25 juni 2016