One Piece Spesial Sabo: Hanya Flash Back (Yang Mengecewakan)

image

Awalnya episode spesial membuat saya begitu penasaran hingga tak sabar untuk menontonnya.
Ternyata episode spesial tidak begitu spesial, tak lebih dari cerita lama yang di ulang kembali, hanya sedikit tambahan di sana sini.
Padahal saya mengharap di episode ini menceritakan bagaimana Dragon menyelamatkan Sabo yang oleh Luffy dan Ace mengiranya sudah mati. Dan bagaimana pula sabo bergabung dan memperoleh posisi penting dalam Pasukan Revolusi. Saya juga ingin mengetahui alasan Sabo tidak pergi menyelamatkan Ace ketika ia akan dieksekusi.
Walaupun keseluruhannya mengecewakan, tapi ada juga koq yang berkesan seperti pertemuan Luffy dengan Sabo ternyata Luffy tidak mengenalnya, berbeda dengan Sabo ketika memperhatikan Luffy yang sedang bertarung di Coloseum dengan mudah mengenalinya karena ada tanda luka di bawah mata luffy.(ini tidak ada di episode anime yang biasa)

Iklan

Pengertian Mim I’mad

Pertanyaan:

Mim yang ada pada هما atau كما adalah mim i’mad, bagaimanakah pengertian i’mad?

Jawaban:
I’mad secara bahasa berarti pegangan. Lantas bagaimanakah pengertian mim i’mad. Mim i’mad adalah mim yang menjadi pegangan (pedoman) bagi si mutakallim untuk menolak ketidak jelasan antara alif tasniah dengan alif yang lainnya. Dengan adanya mim tersebut berarti alif itu adalah alif tasniah.
Seandainya pada هما atau كما tidak ada mim i’mad maka kita tidak akan tau apakah alif yang yang ada pada isem dhamir tersebut apakah alif tasniah atau bukan.

Referensi:
Syarah Kafrawi a’la Matn Jarumiyah Halaman 59

Dayah Darul Huda Paloh Gadeng Menyabet dua juara

Setelah absen selama setahun, akhirnya Dayah Darul Huda kembali menoreh gemilang di perlombaan baca kitab kuning yang diadakan di Dinas Syariat Islam Aceh Utara mulai tanggal 4-6 Agustus 2015.
Dayah Darul Huda Paloh Gadeng membawa pulang dua juara, pertama juara satu tingkat tsanawiyah yang direbut oleh Tgk Zulfirman. Kedua, juara dua tingkat Aliyah yang direbut oleh saya sendiri.
Kitab yang diperlombakan yaitu I’anatuthtalibin untuk tingkat tsanawiyah dan kitab mahalli untuk tingkat Aliyah

image

Pose bersama dengan salah satu peserta dari Dayah Cot Trueng.

Almansubatu Khamsata Asyara: Sebenarnya jumlah Keseluruhan Berapa?

Salah satu kitab ajar saya malam ini yaitu jarumiyah. Dan merupakan pertemuan ketiga kitab jarumiyah setelah libur puasa kemarin. Malam ini membahas masalah maf’ul bih. Seperti biasanya sebelum memasuki dalam inti pembahasan saya memulai terlebih dahulu dengan mukaddimah sembari mengaitkan dengan pembahasan yang lalu.
“Salah satu isem mansub dari 15 isem mansub yang disebutkan oleh musannif dalam bab terdahulu adalah maf’ul bih” jelas saya.
Tiba-tiba salah seorang santri saya, Zainal Khatmi namanya menyanggahnya “tapi dalam bab yang terdahulu Tgk Musannif hanya menyebutnya sebanyak 14.”
Saya sempat heran, sangat jelas musannif mengatakan “Almansubatu Khamsata Asyara” masak keseluruhannya 14. Saya mencoba menghitung kembali dan menyuruh mereka juga menghitungnya. Ternyata benar jumlah keseluruhannya empat belas.
Akhirnya saya menjawab “Pada pertemuan akan datang insyaallah saya jawab, saya lihat dulu bagaimana penjelasan syarahnya”.
Ini adalah pertanyaan yang seharusnya ditanyakan pada bab yang lalu baru sekarang. Setidaknya membuktikan terkadang kita benar-benar kurang teliti dalam mengajar.

image

Kitab Aljarumiyah bab mansub isim

Saya penasaran dari mana bermula pertanyaan ini. Apakah pertanyaan dari kelas-kelas satu yang lain atau murni dari mereka.
Seusai mengajar saya langsung mencari jawabannya dengan membaca dari syarahnya. Dari banyak syarahnya yang ada di kamar saya, pilihan saya jatuh pada kitab “Tasywiqul Khillan” karena banyak isykal-isykal (pertanyaan) serupa ini yang saya temukan dalam kitab ini.
Dan ternyata memang benar dalam kitab ini ada disebutkan isykal tersebut sekaligus kemungkinan jawabannya.
Untuk jawabannya Anda bisa merujuk sendiri pada kitab tersebut halaman 190.Terlalu panjang untuk mengutipnya.

image

Jawabannya terdapat dalam kitab tasywiqul khillan

Dari jawaban-jawaban yang diberikan tetapi tetap berdasarkan husnuzzdhan (prasangka baik) terhadap musannif.
Berbeda dengan sikap sebagian orang di zaman kita karena sifat takabbur (baca, menganggap dirinya lebih baik) dengan lantang melabelkan jumud dan bodoh terhadap ulama terdahulu.

Ketika Harus Melihat Ke Atas dan Ke Bawah

Dalam kapasitas anggota seksi pendidikan (bagian yang mengatur pendidikan) kemarin saya menegur salah seorang guru karena terlalu awal menutup pengajian. Orang yang saya tegur dengan enteng menjawab “guru lain bahkan tak mengajar”. Saya menjelaskan kalau pemikiran kita seperti ini, pendidikan kita tidak akan pernah maju.
Bukan sekali kejadian seperti ini, sangat sering ketika guru ditegur tentang kedisiplinan malah menunjuk orang yang lebih parah darinya.

Memandang Ke Bawah
Diantara tanda-tanda orang syaqawah (orang celaka) yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al asqani yaitu memandang ke bawah dalam masalah ukhrawi.
Seperti kejadian yang saya alami diatas kerap kali dalam masalah ukhrawi kita memandang ke bawah.
Ketika ada orang yang mengajak kita shalat berjamaah, kita menolak sambil beranggapan “saya hanya tidak berjamaah, orang lain bahkan tak shalat”.
Virus “melihat ke bawah” dalam dunia pendidikan sangatlah mematikan.
Guru-guru tak mau disiplin karena melihat orang lain lebih tidak disiplin. Mereka tidak mencontohi guru-guru yang rajin dan disiplin.
Melihat ke bawah mengakibatkan guru-guru tidak mau memperbaiki kualitas diri. Mereka merasa sangat nyaman dengan keadaannya kualitas buruk seperti itu karena melihat ada orang yang lebih buruk dari mereka.
Bila murid terjangkiti penyakit ini maka akan timbul seperti “untuk apa saya belajar toh ada yang lebih bodoh dari saya”.
Seharusnya dalam masalah ukhrawi kita harus melihat ke atas agar timbul semangat yang lebih menggelora.
Ketika melihat ada orang lain rajin shalat berjamaah, harus timbul dalam hati kita “saya harus seperti dia”. Ketika melihat orang lain rajin belajar harusnya timbul dalam hati kita “saya harus lebih rajin darinya.”

Melihat ke bawah harusnya diaplikasikan dalam masalah dunia. Ketika tak mampu membeli hape yang mahal, harus terbersit dalam hati kita “orang lain bahkan tak mampu membeli makanan”. Ketika tidak mampu membeli baju baru harus timbul dalam benak kita “orang lain bahkan memakai baju compang-camping”
Melihat ke bawah dalam masalah dunia akan menimbulkan rasa syukur. Gundah gulana pun akan sirna.

Warkop, Dosmer dan WiFi

image

Jam menunjukkan pukul 9.00 Pagi, bel yang menandakan waktunya ngaji telah berbunyi. Saya pun mengambil kitab untuk mengajar, tiba-tiba ada pengumuman “kepada santri-santri kelas V sekarang kita pergi samadiah”. Kelas V adalah kelas tempat saya mengajar. Sejenak rasa kesal timbul di hati saya, pagi ini saya sangat bersemangat untuk mengajar kitab tauhid membahas masalah ‘kasab’ dalam akidah asy’ari. Yach apa boleh buat. Lho guru mengajarnya kok gak diajak?, teman sekamar saya menyahutnya “meutingat jih pih tan” (Tidak diingatlah) . Sudah jatuh tertimpa tangga lagi.
Otomatis pagi ini jadwal saya kosong, mengisi waktu luang saya berencana membaca kitab Sirus Salikin. Karena saya tidak mempunyai kitab tersebut, saya harus meminjam pada orang lain. Saya pun pergi ke kamar Tgk Azizi untuk meminjamnya ternyata kamar beliau terkunci, dan tidak orang di kamar.
Dan sekali lagi dengan rasa kecewa saya pulang ke kamar saya.
Setelah mengingat, menimbang dari pada melamun gak ada kerjaan di kamar, saya memutuskan untuk membawa sepeda motor saya yang sudah sangat kotor ke dosmer.
Semenjak saya memiliki sepeda motor baru (baru beberapa bulan) saya belum pernah mencuci sendiri, saya sangat malas karena memakan waktu yang lama.
Kalau dosmer biasanya saya memilih dosmer yang berdekatan dengan workop kopi yang ada wifinya. Sambil menunggu sepeda motor dicuci bisa menikmati secangkir kopi dan jaringan wifinya.
Zaman sekarang masih nyari tempat yang ada wifinya? Awalnya saya malas untuk pergi ke wifi, tapi semenjak perang dunia melawan madara palsu alias obito dimulai semenjak itulah telkomsel menaikkan tarif Internetnya, paket Midnight yang biasanya saya gunakan untuk mendownload anime pun dihapus. Mungkin butuh biaya peperangan untuk membantu madara yang hampir kalah.

Sebagai pencinta anime, hal membuat kegalauan yang besar. Akhirnya saya melarikan diri ke wifi. Biasanya saya menggunakan wifi.id karena jaringan lebih stabil di kota saya.

Dulunya saat saya masih abg (dan sekarang pun masih tergolong abg) saat saya masih di kelas 7 dan masih gagap Internet. saya selalu diajak oleh teman saya ke warkop-warkop yang ada wifinya. Perginya sehabis turun mengaji sekitar pukul 11 malam, pulangnya hingga pukul 3 malam atau 4 malam. Itu cerita 4 tahun lalu, sekarang saya sudah bertaubat dan tau diri bahwa begadang itu merusak kesehatan dan karena saya harus aktif di pagi hari.

Sujud Tilawah

image

Seperti cerita saya yang telah lalu, dayah kami banyak kedatangan santri baru. Biasnya sedikit kekacauan tadi saat shalat subuh berjamaah.
Tadi subuh yang mengimami shalat yaitu Abu (panggilan untuk pimpinan dayah).
Dan sudah menjadi hal yang lazim setiap subuh jum’at Abu selalu membaca surat Alif lam mim As Sajadah pada rakaat pertama.
Ketika tiba pada ayat sajadah, Abu pun sujud tilawah. Kami yang sudah sangat biasa dengan hal ini tidak lagi terkecoh. Beda halnya dengan santri baru yang menduga Abu akan ruku’, lantas mereka pun ruku’. Ketika mereka lihat ternyata Abu sujud, akhirnya pun mereka sujud.

FYI (for your information), pada subuh hari jum’at disunatkan setelah Al-fatihah membaca surat As sajadah pada rakaat pertama, dan membaca surat Hal Ata pada rakaat kedua.
Sujud tilawah adalah sujud yang disunatkan ketika membaca atau mendengar ayat sajadah.
Adapun ayat-ayat sajadah itu antara lain
1. Surat Al-A’raf ayat 206
2. Surat Ar-Ra’d ayat 15
3. Surat An-Nahl ayat 49
4. Surat Al-Isra’ ayat 107
5. Surat Al-Maryam ayat 58
6. Surat Al-Hajj ayat 18
7. Surat Al-Hajj ayat 77
8. Surat Al-Furqan ayat 60
9. Surat An-Naml ayat 25-26
10. Surat As-Sajdah ayat 15
11. Surat Fush-Shilat ayat 17-18
12. Surat An-Najm ayat 62
13. Surat Al-Insyiqaq ayat 21
14. Surat Al-Alaq ayat 19

Apabila sujud tilawah dilakukan di luar shalat disyaratkan;
1. Niat
2. Takbir
3. Duduk
4. Salam

Apa hukumnya sujud tilawah? Ulama berbeda pendapat pada masalah ini. Menurut mazhab Hanafi, sujud tilawah hukumnya wajib. Sedangkan menurut Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan imam Ahmad bin Hambal hukumnya sunat.

Untuk tidak terkecoh hingga menduga imam akan ruku’ seyogianya kita harus mengingat benar-benar tempat-tempat yang disunatkan sujud tilawah.