Berlatih Berpidato

Dalam berdakwah bukan hanya dituntut menguasai dunia tulis menulis juga dalam berbicara di depan umum harus handal. Sayangnya saya kedua-duanya tidak mahir. Dalam dunia tulis menulis saya belum bisa dikatakan sebagai seorang penulis yang bagus. Juga dalam berbicara di depan umum saya belum begitu lihai.
Tadi seusai shalat Isya, seksi muhadharah menunjuk saya sebagai penutup muhadharah, saya menolak dengan halus. Kedepannya insyaallah saya tidak akan menolaknya.
Bila menyelisik ke belakang, saya ada beberapa kali memenangkan lomba. Pertama, mendapatkan juara dua ketika saya mengikuti lomba di tempat mengaji saya semasa SD, kedua, saya mendapatkan juara satu saat mengikuti lomba se kecamatan Syamtalira Aron yang diadakan oleh IPPES, terakhir, saya mendapatkan juara dua saat mengikuti lomba bulanan antar kabilah di Dayah Darul Huda Paloh Gadeng.
Itu mungkin menjadi cerita baik masa lalu saya, sekarang saya adalah seorang penakut yang tidak berani tampil di khalayak ramai.
Alasan saya tidak berani tampil di depan umum karena saya menilai pidato saya selama ini kurang menarik.
Selama saya mengikuti lomba saya menghafalkan teks pidato yang saya tulis sendiri. Akibatnya saya tidak berani tampil bila tidak menghafal teks pidato.
Menghafal teks pidato bukanlah suatu cara yang bagus, menghafal teks pidato tak lebih dari memutar kaset ulang kembali.
Setelah kejadian lebaran kemarin, akhirnya saya sudah mulai sedikit sadar bahwa kemampuan untuk berpidato memang sangat dibutuhkan, saya tidak bisa terus menerus mengelak setiap tawaran pidato.
Mulai sekarang saya akan berlatih kembali berpidato, saya memulai dengan berlatih membuat bahan yang menarik hingga mimik dalam berpidato.
Bahkan ibu saya sudah semenjak dahulu menasehati saya agar belajar pidato, supaya mahir berpidato.
Ibu saya pernah menceritakan bahwa abang saya dulu cukup rajin latihan berpidato, untuk mendukung latihan berpidato abang saya mempunyai mic rusak yang dipakai saat latihan. Dan latihannya tidak sia-sia, sekarang ia cukup mahir dalam berceramah.
Akankah saya menjadi penceramah ulang di kemudian hari?

Iklan

Diyat!! Bukan diet

Malam ini pengajian perdana kelas saya setelah libur panjang ramadhan.
Santri kelas saya belum semuanya balik ke dayah, malam ini ada sekitar 15 murid.
Walaupun malam perdana saya tetap mengajar seperti biasanya dengan tiga pelajaran.
Kitab pertama yang saya ajar malam ini yaitu fiqah mengenai masalah pembunuhan dan sanksinya. Saya menjelaskan bahwa bila pembunuhannya sengaja maka hukumnya qisas, seandainya keluarga si terbunuh memaafkan maka wajib membayar diat.
Lantas salah seorang murid saya menanyakan “Teungku diyat itu menahan lapar ya?”. Saya heran, dan tak memahami maksud dari pertanyaannya. Tiba-tiba salah satu temannya menyahut “itu diet bukan diyat!”
Akhirnya saya hanya tersenyum saja.

Makna Hadis “Puasa Untukku”

image

Gambar diambil dari http://www.startimes.com

Puasa mempunyai banyak kelebihan, baik puasa sunat maupun puasa wajib. Dalilnya sebagai mana banyak dikutip oleh penceramah dan hadits ini sudah sangat familiar di telinga kita ;

كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به يدع طعامه وشرابه من أجلي

“Tiap amal anak Adam baginya kecuali puasa, sesungguhnya puasa untukku dan aku yang membalasnya. Ia meninggalkan makanan dan minuman karena Aku”

Bagaimanakah makna hadis di atas?
Ulama berbeda pendapat mengenai makna pengkhususan puasa untuk Allah. Perbedaan pendapat pada masalah ini mencapai lebih atas lima puluh pendapat.
Sebagian pendapat tersebut sebagai mana yang diutarakan oleh Syekh Muhammad Ramli yaitu :
1. Puasa lebih jauh dari pada ria ketimbang amal yang lain
2. Pada hari kiamat seluruh amal seseorang akan berkaitan dengan musuhnya (maksudnya orang yang pernah dizaliminya) kecuali puasa. Maka atas puasa tidak ada jalan bagi musuh (untuk mengambilnya). Dan tidak tersisa dari amalnya kecuali puasa. Allah akan memaafkan semua kezaliman dan ia dimasukkan dalam surga karena puasa. Pendapat ini dinukil dari Sufyan bin Uyainah. Dan pendapat ini ditolak. Menurut pendapat yang sahih puasa juga terikat hak ghurama’ (orang yang pernah dizalimiinya) sama seperti amal yang lain.
3. Untuk memuliakan sebagaimana firman Allah “naqatulllah” Unta Allah, padahal seluruh alam adalah milik Allah

4. Karena manusia tidak pernah menyembah selain Allah dengan berpuasa. Orang-orang kafir pada satu masa pun tidak pernah membesarkan (mengagungkan) Tuhan yang disembah dengan cara berpuasa, walaupun mereka ada mengagungkan dengan cara shalat dan sujud.

5. Karena tidak membutuhkan makanan dan lainnya merupakan sifat Tuhan. Manakala orang yang berpuasa mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang sesuai dengan sifatnya maka Allah mengatakan puasa itu untukku.

Menyingkirkan Takabbur: Menjalin Ukhuwah Sesama Intern Dayah dan Antar Dayah

Sifat takabbur salah satu penyakit yang berbahaya, dengan sebab takabburlah iblis mendapatkan laknat dari Allah. Manusia tidak layak bersifat dengan takabbur karena “takabbur adalah selendangku” begitulah firman Allah dalam hadis qudsi. Tapi tak sedikit manusia bodoh yang bersifat takabbur.

Apa itu Takabbur?
Syekh Muhammad Fadhali dalam kitabnya “kifayatul awam” mendefinisikan Takabbur dengan “menolak kebenaran dan memandang hina orang lain”. Bukankah iblis tidak mau sujud kepada Adam karena menganggap dirinya lebih mulia adam dan menganggap Adam itu rendah.
Takabbur salah satu sifat yang wajib dihindari oleh manusia karena Rasulullah pernah bersabda
إن لأبواب السماء حجابا يردون أعمال أهل الكبر والحسد والغيبة
“Sesungguhnya pintu langit mempunyai penghalang, yang  menolak amal orang yang takabbur, dengki dan pengupat”.

Parahnya orang yang bersifat takabbur tidak merasa dirinya bersifat dengan takabbur.
Takabbur sifat yang sangat dicela, apalagi bagi kita seorang pengajar ilmu agama atau penuntut ilmu agama, tidak sepantasnya bersifat takabbur.
Ada sebagian guru yang merendahkan guru lain di depan murid-muridnya dengan tujuan agar sang murid menganggap ia adalah orang yang hebat. Sangat disayangkan ia telah termasuk dalam perangkat setan.
Bagaimana reaksi sang murid? Tentu tak sebodoh gurunya, sang murid bahkan tak suka dengan sikap takabbur gurunya.
Padahal kita tinggal dalam sedayah, untuk apa saling menjatuhkan. Bukankah kita berguru pada guru yang sama? Seharusnya kita harus bekerjasama agar pendidikan semakin maju.

Akibat sikap takabbur bukan hanya sesama sedayah timbul percekcokan bahkan paling parahnya lagi antar dayah terjadi perselisihan.
Santri atau guru dayah A mengejek santri dayah Z , santri dayah Z menghina santri dayah A. Bahkan kita kerap kali mendengar klaim-klaim ‘sesat’, “dayah kami paling hebat”, “pimpinan dayah kami lebih pandai ”

Sadarlah wahai santri! Jangan tenggelam dalam takabbur. Takabbur tak akan menguntungkan.

Sebenarnya takabbur timbul akibat keengganan mengakui kelebihan orang lain.

Dalam kitab Bidayah AlHidayah imam Alghazali menulis “Setiap orang yang menduga dirinya lebih baik dari salah seorang makhluk Allah maka ia orang yang takabbur”.

Solusinya?
Kita mungkin sedikit resah ketika menyadari ternyata dalam hati kita tersimpan sedikit sifat takabbur. Dan bertanya-tanya bagaimana cara mengantisipasi agar takabbur tidak mendarah daging dalam diri kita. Imam Alghazali memberi kiat-kiat agar kita terhindar dari sifat takabbur;
1.Manakala melihat anak kecil, maka katakanlah dalam hati: “Anak ini masih kecil belum pernah melakukan kemaksiatan kepada Allah, sedangkan aku sudah pernah melakukan kemaksiatan, maka dia jelas lebih baik daripada diriku”.
2.Jika melihat orang tua, maka katakanlah dalam hati: ”Orang ini telah banyak beribadah kepada Allah sebelum aku, maka dia jelas lebih baik daripada aku”.
3.Bila melihat orang ‘alim, maka katakanlah dalam hati: “Orang telah dianugerahi ilmu yang tidak aku miliki, dia telah menyampaikan sesuatu yang tidak pernah aku sampaikan, dan dia mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui, maka bagaimana aku menyamai dia?! Aku bodoh dan dia pandai, jelas dia lebih mulia”.
4.Jika melihat orang yang bodoh, maka katakanlah dalam hati: “ Orang ini telah melakukan kemaksiatan kepada Allah dengan kebodohan. Sedangkan aku bermaksiat dengan ilmu. Maka hujjah Allah atasku lebih kuat. Dan aku tidak tau bagaimana aku menutup ajal dan dengan apa ia menutup ajal”.
5.Manakala melihat orang kafir, maka katakanlah dalam hati: “ Aku tidak tahu barang kali di akhir hidupnya nanti dia menjadi orang muslim, lalu melakukan amal kebajikan dengan penuh kepasrahan diri kepada Allah sehingga seluruh dosa-dosanya dihapus oleh Allah.

Dengan hilangnya takabbur maka untuk menjalin ukhuwah akan mudah. Semoga hubungan antar intern dayah dan antar dayah saling akur.

Pembentukan Kelas Tajhizi

Sehabis shalat magrib saya dipanggil oleh Rais A’m (ketua umum), beliau memerintahkan untuk membentuk kelas tajhizi (persiapan) mengingat banyaknya santri baru yang mendaftar.

Apa itu Kelas Tajhizi?
Kelas tajhizi adalah kelas persiapan sebelum santri menduduki kelas satu. Bisa dikatakan kelas tajhizi yaitu kelas di bawah kelas 1.
Untuk apa kelas tajhizi? Kelas tajhizi sangatlah dibutuhkan mengingat ketika santri di kelas satu langsung diajarkan kitab berbahasa Arab. Maka santri-santri yang belum lancar membaca bahasa Arab (belum lancar membaca Al-Quran) akan diletakkan di kelas tajhizi.
Di sebagian dayah kelas tajhizi merupakan kelas tetap. Santri sebelum menduduki kelas satu diwajibkan dulu duduk di kelas tajhizi.
Di Dayah Darul Huda Paloh Gadeng kelas tajhizi bukanlah kelas tetap, tetapi kelas yang dibentuk pada pertengahan tahun ajaran. Karena pendaftaran santri baru selalu diterima sepanjang tahun maka santri-santri yang mendaftar pada pertengahan tahun akan diletakkan di kelas tajhizi.

image

Saat saya mengajar kelas Tajhizi: praktek shalat

Apa yang diajarkan di kelas Tajhizi?
Tgk Sufi (ketua umum) mengatakan, “pengajar yang mengajar di kelas Tajhizi wajib mengajarkan terlebih dahulu cara shalat, terutama shalat berjamaah sehingga santri tau bagaimana seandainya kita masbuk atau muwafik. Juga diajarkan cara-cara bersuci yang benar dan dasar-dasar i’tikad”. Termasuk juga Alquran.

Dayah Darul Huda Paloh Gadeng ‘Diserbu’ Santri Baru

Saat tahun ajaran sekolah berakhir menjadi moment bagi orang tua untuk mendayahkan anaknya.
Di tengah persaingan global, pendidikan dayah tetap menunjukkan daya tariknya.
Salah satunya Dayah Darul Huda Paloh Gadeng. Hari ini Dayah Darul Huda Paloh Gadeng diserbu oleh puluhan pendaftar baru.

image

Orang Tua mengantar perlengkapan kamar untuk anaknya

Kenapa memilih Dayah Darul Huda Paloh Gadeng? Tentunya mempunyai beberapa alasan. Pertama, biaya masuk dan pendaftarannya sangat murah di saat dayah-dayah lain mematok biaya selangit. Kedua, kualitas dayah yang tak kalah saing dengan dayah-dayah yang ada di Aceh.

Berapa Biaya Pendaftaran
Biaya pendaftaran dan biaya masuk hanya Rp. 150.000. Sangat murahkan? Biaya bulanan hanya Rp. 7.500 per bulan.
Kenapa terlalu murah? Karena kami sadar banyak orang tak mampu yang juga membutuhkan pendidikan dayah.

Ayoo tunggu apalagi, segera daftarkan di Dayah Darul Huda Paloh Gadeng!!

The Last: Naruto The Movie : Akhir Cerita Yang Mengecewakan?

image

Akhirnya saya selesai menonton The Last: Naruto The Movie, dan tiba saatnya untuk membuat review versi saya.
Bila Stand By Me berakhir dengan happy ending, naruto juga begitu, The Last nya juga berakhir happy ending. Namun di balik happy ending naruto ada deraian air mata (maksudnya rasa kecewa). Banyak fans naruto kecewa ending seperti itu dan menyimpan beberapa harapan.
Kalau saya sih menerima dengan lapang dada, sudah takdirnya begitu (oohh.. Lebay).
Di akhir cerita ternyata Sakura lebih memilih mencintai Sasuke yang tak lebih dari “bang Toyib” yang sudah tiga kali puasa tiga kali lebaran tak pulang-pulang. Bahkan Sarada, anaknya Sakura dengan Sasuke (ini pun kontroversi, ada juga yang mengatakan anak sasuke-karin) tak mengenal ayahnya, walaupun kemudian hari Sarada akhirnya berjumpa dengan Sasuke (baca komik Naruto Gaiden). Sakura mencampakkan Naruto yang begitu mencintainya dan malah mencintai Sasuke yang masih diragukan apakah Sasuke mencintai sakura.
Ini mungkin akibat Sakura tak menjunjung petuah Melly Goeslaw ; “cintai dia yang mencintaimu”.
Keanehan juga dari sikap Naruto yang berbalik haluan, mencintai hinata padahal bertahun-tahun berjuang mendapatkan cinta Sakura. Mungkin naruto lelah cintanya bertepuk sebelah tangan.
Hinata walaupun dengan malu mengungkapkan rasanya, akhirnya naruto mengerti perasaannya. Ia mendapatkan apa yang ia harapkan. Dan di akhir cerita ia dan naruto memadu cinta di bulan (ini bukan kata kiasan, emang realita)

image

Memadu Cinta Di Bulan

Terakhir Karin yang begitu mengidolakan Sasuke sepertinya harus seperti Astrid ” Jadikan aku yang kedua Buatlah diriku bahagia Walau pun kau takkan pernah Kumiliki selamanya”
Bukan hanya dalam manga saja, dalam kehidupan nyata tak sedikit cerita yang serupa demikian. Tak selalu orang yang kita cintai mencintai kita dan di saat itu kita harus seperti naruto yang harus mencintai orang lain.

Hadih Maja #1 :Jak Tajam Troh Si Buleun, Jak Beuleuheun Troh Si Uroe

Jak Tajam Troh Si Buleun, Jak Beuleuheun Troh Si Uroe”

image

Gambar dari desyidn.blogspot.com

Sebelum saya menjelaskan panjang lebar tentang makna hadih maja tersebut, tahukah Anda apa itu hadih maja? Hadih maja merupakan kata-kata dari bahasa Aceh, ia semakna dengan pepatah. Atau bisa juga dikatakan “haba ureung tuha” (petuah orang tua)
Kalau diterjemahkan hadih maja di atas lebih kurangnya begini “jalan dengan cepat akan sampai sebulan, jalan dengan perlahan-lahan sampai dalam sehari”
Secara lahir tampaknya aneh, koq jalan dengan cepat akan sampai sebulan, jalan dengan perlahan-lahan sampai dalam sehari?
Begini penjelasannya, jalan dengan cepat tanpa hati-hati itu beresiko tinggi mendapatkan kecelakaan sehingga perjalanan kita terhambat hingga sebulan.
Tapi kalau jalannya perlahan-lahan (maksudnya dengan hati-hati), resiko kecelakaan rendah sehingga untuk sampai ke tujuan cepat karena tidak ada yang menghambat.
Ternyata nenek moyang sudah semenjak dulu mengwanti-wanti kita dalam menggunakan jalan raya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang kita dapati sekarang, banyak pengguna jalan tidak lagi memikirkan keselamatan dirinya, ini dilihat dari banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh pengguna jalan.
Contoh yang paling sering adalah menggunakan helm, sekarang orang menggunakan helm tujuannya agar tidak ditilang oleh polisi, dan bila tidak ada razia polisi helm pun tidak dipakai. Padahal menggunakan helm sangat banyak manfaatnya, salah satunya melindungi kepala bila kita terjatuh, dan juga melindungi muka.
Kesadaran tertib lalu lintas masih sangat rendah, pelanggaran-pelanggaran lalu lintas begitu mudah kita dapati. Menerobos lampu merah seolah-olah sudah menjadi hal yang lumrah.
Yang sangat mengherankan saya, orang tua juga tidak begitu peduli dengan keselamatan anaknya, saya sangat sering menjumpai anak-anak SD menggunakan sepeda motor di jalan raya.
Alhasil, taat berlalu lintas bukanlah untuk polisi tapi untuk keselamatan kita sendiri.

Refleksi Ramadhan: Belajar dari Kegagalan

Ramadhan memang telah berlalu, tapi bukan berarti keta’atan kita harus turun drastis.
Untuk mengantisipasi itu saya membuat target-target yang ingin saya capai selama di luar ramadhan sembari menunggu ramadhan yang akan datang, bila saja Allah memberi umur panjang.
Ramadhan kali ini bagi saya agak sedikit mengecewakan, banyak target yang tidak tercapai. Diantaranya;
Pertama, membaca Al-Quran. Ramadhan kali ini menargetkan khatam lima kali, tapi apa daya. Saya hanya mampu menamatkan dua kali. Tau kenapa penyebabnya? Karena tubuh saya shock (nanti akan jelaskan)
Kedua, shalat sunnah. Selama Ramadhan banyak shalat sunnah yang saya tinggalkan padahal jauh hari sebelum ramadhan saya berjanji pada diri saya untuk melakukan banyak shalat sunnah.
Walaupun shalat tarawih full saya merasa ibadah-ibadah saya sangat kurang.
Ketiga, shalat berjamaah. Ini yang paling fatal. Selama ramadhan saya hanya melaksanakan jamaah shalat Isya. Magrib, subuh, asar hanya sesekali.

Penyebab Kegagalan
Setelah saya merenungi, penyebab saya gagal karena saya belum sepenuhnya siap menyambut ramadhan. Fisik dan jiwa saya belum mantap menyambut ramadhan. Pertama mengenai fisik, awal-awal ramadhan begitu lemah, efeknya ibadah pun berkurang. Penyebabnya di luar bulan ramadhan saya sangat malas berpuasa sunat. Sehingga ketika ramadhan datang, tubuh merasa shock.
Begitu juga dengan shalat, kenapa selama ramadhan begitu berat melaksanakannya? Karena diluar ramadhan tidak rutin mengerjakan shalat sunnah.
Juga membaca Al-Quran, bila di luar ramadhan seminggu tidak ada sekali membaca Al-Quran maka jangan heran di dalam ramadhan membaca Al-Quran terasa begitu berat

Selalu ada Alasan Pembenaran
Walaupun sudah jelas-jelas berada di jalan salah, tapi selalu ada alasan untuk membenarkan diri.
Saya selalu beralasan tidak puasa sunnah karena saya tidak mampu. Terkadang saya harus mengajar dalam sehari dua waktu (sekitar 4 jam), itu terasa sangat berat bila berpuasa.
Saya jarang membaca Al-Quran dengan alasan saya sangat sibuk dengan kehidupan membaca saya dan mempelajari bahan ajar.
Nyatanya semua itu hanya alasan belaka. Saya memperhatikan abang saya selama ramadhan beliau mengajar dua waktu, seusai shalat subuh dan seusai shalat zuhur. Dan itu terlihat biasa-biasa saja. Lantas kenapa saya tidak berpuasa sunnah dengan alasan capek mengajar? Dan saya beralasan jarang membaca Al-Quran karena tidak mempunyai waktu lantas kenapa saya selalu mempunyai waktu untuk menonton anime, mulai dari Naruto, One Piece, Fairy Tail, Detective Conan hingga Death Note.

Memperbaiki Diri Mulai Sekarang
Saya tidak ingin lagi menunda-nunda memperbaiki diri saya. Mulai sekarang saya bersiap-siap untuk menyongsong ramadhan yang akan datang.
Saya mulai rajin membaca Al-Quran, saya menargetkan satu hari satu juz. Saya ingin merutinkan shalat sunnah mulai dari shalat sunnah zuha hingga shalat tahajjud. Juga saya akan mencoba untuk berpuasa sunnah

Terasa berat?
Yang namanya jalan menuju kebaikan selalu ada aral yang melintang. Saya mengakui semua ini memang berat untuk saya kerjakan tapi saya sadar semua ini untuk akhirat saya. Allah Swt berfirman
: أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akanmasuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Al-Imran:141)

Solusinya seberat apapun ujian dalam menjalani keta’atan tiada lain kesabaran.
ْ

Peu meu ah 500

Peu meu ah 500

Sebelumnya saya terlebih dahulu meminta maaf mungkin ada yang tersinggung dengan judul tersebut. Saya tidak bermaksud menyinggung atau menyindir “peu meu ah 500”. Karena judul tersebut yang menarik bagi saya karena ceritanya yang mirip. Dan bagi pembaca yang tau tentang cerita “peu meu ah 500” tidak usah berkomentar, karena pada kesempatan kali ini saya tidak menceritakan tentang “peu meu ah 500”, tapi cerita lain. Sekali lagi saya mohon maaf.

Dan mungkin Anda akan berkomentar, “jai that cerita”. Sebenarnya saya tidak mempunyai banyak cerita hanya kisah kisah kehidupan yang saya alami. Selama saya masih hidup tentu banyak cerita yang akan kisahkan. Beda halnya bila saya sudah mati dan tentunya saya juga punya cerita lain di alam sana tapi tak bisa saya ceritakan kepada Anda.
Yook Langsung ke Tkp..!

___
Jam menunjukkan pukul 7.30 Wib pagi, perut saya mulai keroncongan. Akhirnya saya memutuskan mencari sarapan. Sejenak saya berpikir, lebaran begini di mana ya ada jualan lontong atau nasi. Biar lebih pasti, saya memutuskan langsung ke Keudee Kr. Geukuh.
Dan tibalah saya di tempat penjualan lontong, saya berdiri mematung melihat penjual sedang melayani pelanggan. Akhirnya tiba giliran saya,
“lontong satu, bungkus! ” ucap saya

“pakek telor? “Tanya penjual

“pakek saja” jawab saya

Setelah dibungkus dan lontong telah berpindah tangan, saya menyodorkan uang lembaran Rp 1000000 (ehh.. Kelebihan satu nol, maksudnya uang sepuluh ribu).
Dengan sigap penjual mengambil uang dari tangan saya.
Saya berdiri lagi mematung menunggu uang kembalian, saya melihat penjual mencari uang kembalian di dalam laci persis seperti penjual nasi goreng mengaduk-ngaduk nasinya.
Dengan tampang tidak berdosa (mungkin kata-katanya terlalu berlebihan) , penjual berkata
“gak ada uang seribu, saya taruk bakwan saja boleh?”
Dengan lugu saya menjawab “boleh juga”
Dan penjual mengembalikan uang kembalian sebanyak 2000.

____
Tadi ibu saya sangat merepet, pasalnya? Karena hari ini tanggal 20. Lalu apa hubungannya? Mungkin Anda tidak tau angka keramat 20 karena Anda pengguna listrik prabayar. Bagi kami yang masih menggunakan listrik pasca bayar, tanggal 20 adalah limit sebelum dikenakan denda.
Padahal rencananya sehabis shalat asar saya ingin mengqadha One Day One Juz ( Mungkin timbul dalam benak Anda, ahh.. Itu riya. Anda telah su uz zhan!!!), dari pada mengajinya tidak khusyu’ saya memutuskan untuk segera membayar listrik.
Dan tibalah saya diloket pembayaran listrik, saya melihat dua orang perempuan sedang mengantri. Dan diketika ditanyai berapa ID plnnya dengan cepat ia menghafalnya. Dan sekarang giliran saya, dengan cekatan saya sodorkan struk pembayaran bulan lalu. Koq? Apanya yang koq-koq, yach karena saya tidak menghafal ID pln rumah saya.
“lima puluh ribu” katanya sambil menyerahkan bukti pembayaran bulan ini. Saya menyerahkan lembaran lima puluh ribu, saya sedikit lega karena tidak usah berdiri mematung sambil melihat orang menggoreng-goreng uang.
Sebelum menancap gas saya memperhatikan rincian struk bulan ini. Tertulis TOTAL BAYAR Rp. 49.749. Saya membatin “kemana dua ratus lagi uang saya.”

____

Rumah saya sekarang sedikit ramai, ada Kak Yun yang pulang berlebaran. Beliau adalah kakak ipar saya. Saya mempunyai dua kakak ipar, bila dijumlahkan keseluruhan saya mempunyai tiga kakak (ah.. Gak penting amat)
“pakoen neu tik-tik peng 200“ (kenapa diterlantarkan begitu saja uang 200?) kata Kak Yun.
“Keu pue teuh, han ji tung” (untuk apa? Gak laku”) jawab kak tah
“jeeh..  I goeb ideh jitung watee ta meu bloe bak supermarket” (kalau di tempat saya, laku kalau membeli di supermarket)  sahut kak yun.

__
Sebenarnya saya sangat malas menerjemahkan dialog dalam bahasa Aceh ke bahasa indonesia, sulit untuk memilih kata-katanya

__
Pada cerita membayar listrik, orang yang berada pada loket tersebut tidak sedikit pun basa bagi. Apa sih capeknya mengucapkan “peu meu ah 200”. Mungkin karena ini hal yang sudah lumrah. Tapi tidakkah kita bisa mengubahnya, itu hak orang lain yang harus kita meminta maaf.
Jangan pernah meremehkan hak manusia, karena hak manusia lebih berat ketimbang hak Allah.

___
Terkadang menunggu uang kembalian itu menjengkelkan, “Neu preeh di lee, loen mita peng balek” (tunggu dulu saya mencari uang kembalian

___
“peu meu ah 500 ” judul diatas kalau di terjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira gini” maafkan saya tidak bisa mengembalikan uang kembalian Anda sebanyak 500“