Cara Cerdas Beriklan di Facebook

Pernah nonton Youtube? Rata-rata orang akan menjawab ‘pernah’. Kecuali kalau ditanyakan pada mak saya jawabannya ‘tidak’.

Bagaimana ketika konten yang Anda buka ada iklannya? Pasti Anda cepat-cepat ingin menekan ‘skip’  bahkan ketuka belum waktunya. Mungkin Anda berpikir begini “tujuan saya buka melihat iklan, menonton iklan buang-buang waktu saja”.

Begitu halnya dengan facebook. Apakah orang-orang membaca status iklan yang Anda posting di posting, mungkin kebanyakannya mengatakan ‘tidak’.

Kembali ke Youtube. Apakah ada orang yang menonton iklan hingga habis? Ada. Saya sendiri menonton iklan hingga berepisode-episode, tentunya iklan yang dikemas dengan menarik. Cukup banyak pembuat iklan sekarang yang kreatif, mereka sadar bahwa selama ini iklannya tidak menarik dan dilewatkan banyak orang. Iklan yang menarik menurut saya contohnya iklan Sprite, iklan BNI Syariah, atau iklan Tropicana Slim.

Iklan BNI syariah dengan judul “Tumpah di Tanah Mekkah” cukup menarik perhatian, bahkan saya menunggu-nunggu lanjutannya namun sayang berakhir di episode 4. Sama halnya dengan iklan tropicana slim dengan judul SORE: Istri dari masa depan, bahkan iklan menjadi perbincangan dimana-mana, dan membuat orang bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau tiba-tiba didatangi istri dari masa depan? 

Berbincang-bincang mengenai facebook,  saya cukup meyayangkan para pengguna facebook menggunakan facebook sebagai media iklannya tapi tidak tau caranya bagaimana.

Saya melihat beberapa cewek yang jualan online di facebook selalu statusnya cuma mengunggah foto barang-barang jualan. Captionnya “diorder sis”..Muak.

Begitu juga halnya dengan cowok. Mereka membombardir dinding facebook dengan iklan, malam, siang, pagi , status mereka tetap iklan.

Bayangkan kalau anda berteman dengan orang yang berbisnis sama sebanyak 20 orang. Status mereka sama persis alias copy paste, maka anda akan melihat status yang sama sebanyak 20 status. Belum lagi sehari bisa berkali-kali.

Saya sendiri kalau begini memilih membatalkan pertemanan, toh saya tidak mengenal mereka. Kalau opsi ini tidak memungkinkan saya memilih berhenti mengikuti dan tetap berteman. Itulah hebatnya facebook, punya banyak pilihan, berteman dan mengikuti, mengikuti tidak berteman atau berteman tidak mengikuti. Berbeda dengan twitter pilihannya cuma follow unfollow.

Solusinya? Buatlah iklan di facebook sekreatif mungkin. Hingga pengguna facebook mau meluangkan waktunya untuk membaca iklan Anda.

Dan gunakan format 4:1 , maksudnya 4 status pribadi, satu status iklan. Begitu juga foto. Atau format lainnya juga boleh, asal jangan melulu iklan.

Mereka pengguna facebook tidak mau berteman dengan toko, mereka manusia yang ingin berteman dengan manusia.

Kalau Anda tidak percaya tips saya. Silahkan batalkan pertemanan dengan semua orang. Dan bertemanlah sesama penjual online.

—-

Menulis ini sambil rebah-rebahan di musalla RSU Cut Meutia

30 menit lalu:

“Kapan diinfus buk?” Tanya saya pada perawat

“Nanti malam, operasi hidungkan? Sahut perawat.

“Iya. Sekarang bisa mutar-mutar dulu kan? Tanya saya. Perawat itu tersenyum, “bisa”

Saya segera meluncur ke musalla untuk menunaikan kewajiban, meninggalkan mak saya di ranjang. Tadi berangkat dari rumah pukul 12.00 siang, sesuai dengan amanah perawat di poli THT.

Ruang Privat dan Ruang Publik

Setelah menamatkan novel Bumi karangan Tere Liye di aplikasi ijak saya sangat penasaran dengan sekuel lanjutannya “Bulan”. Sayangnya di aplikasi ijak tidak tersedia, 0 copy. 

Saya tidak menyerah begitu saja, saya mencari di pustaka daring lainnya. Mulai dari ijogjakarta, imedan, iprobolinggo, ikaltim hingga ipusnas. Benar-benar gila. 

Ketika tidak menemukan novel yang dimaksud saya langsung menghapus aplikasi dan mendownload aplikasi pustaka lainnya. 

Hingga akhirnya saya mendarat di ipusnas , saya langsung mengketik ‘Tere Liye’ di kolom pencarian, namun saya kecewa ternyata di ipusnas juga 0 copy. Tapi kekecewaan saya terbayar ketika menemukan novel Tere Liye yang lainnya “Kau dan Sepucuk Angpau Merah”, bahkan saya menemukan novel Muara 1 tujuan dimana dua dari trilogi novel ini sudah saya baca.

“Bagus juga nih pustaka” gumam saya ketika melihat buku-buku yang tidak ada di aplikasi ijak.

Berfungsinya kolom pencarian sangat menguntungkan bagi saya, beda dengan pustaka pustaka yang lain di mana tombol pencarian tidak berfungsi hanya ijak yang benar-benar berfungsi. 

Saya iseng-iseng mengetik keyword ‘Hernowo’ dan hasilnya cukup mengejutkan, ternyata cukup banyak buku pak Hernowo di ipusnas. 

Saya kenal nama penulis ini karena pernah membaca bukunya yang berjudul “Langkah Mudah Membuat Buku Yang Menggugah”. Dan saya juga rutin membaca tulisannya di catatan facebook. 

Saya memilih sembarang buku karena tidak tau buku mana yang bagus. 

Dari banyak tulisan dibukunya banyak yang tidak saya pahami apa maksudnya, ketika saya tidak memahami saya langsung melewatkannya.

Dan ada juga beberapa gagsan yang cukup menarik bagi saya. Salah satunya mengenai menciptakan ruang privat dan ruang publik dalam menulis. 

“Tulisan itu tidak sekali jadi” tulisnya. 

Pertama kali kita harus menulis di ruang privat, dalam tulisan yang lainnya ia mengistilahkan “menulis untuk diri sendiri”. Ketika menulis dalam ruang privat ini kita mencurahkan semua ide yang kita miliki tanpa terikat oleh tetekbengek aturan bahasa. Menulis dalam ruang privat ini membuat kita bebas-sebebasnya tanpa tertekan dengan penilaian orang lain. 

Kedua ruang publik, setelah tulisan siap di ruang privat ketika kita membacanya pasti tidak teraturan, bahasanya cukup jelek. Dan setelah itu baru mengeditnya untuk publik. 

Kalau pertama kali langsung menulis untuk publik membuat ide kita tertahan, kita merasa tertekan dengan penilaian orang lain. Takut dianggap jelek sehingga membuat kita mengurungkan niat menulis. 

Saya juga penah mengalami hal seperti ini. Kalau saat membuat tulisan tujuannya untuk dipublish di blog pasti tulisan saya akan terhambat, tidak mengalir bahkan cukup sering berhenti di tengah jalan. 

Dan saya mencoba mempraktekkan teori pak hernowo, pertama menulis di ruang privat. Yah memang benar tulisan saya lancar dan saya merasa tidak tertekan ketika menulis. 

Setelah itu baru tulisan saya saya keluarkan ke ruang publik. Saat itulah saya baru melakukan pengeditan atau mengatur tulisan saya. 

Dan banyak lain gagasan-gagasn pak hernowo lainnya, mungkin kali lain akan menceritakannya. 

​Mengajar Seumur Hidup dan Doa yang diijabah

Dalam kunjungan saya berobat di poli THT kali ke 5 saya bertemu dengan seorang ibu paruh baya 


“Saya juga dari krueng geukuh”
sahut saya setelah ibu tersebut memperkenalkan dirinya ke saya dan mengatakan bahwa beliau berangkat dari Krueng geukuh.

“Ooooww… Kr. Geukuh di daerah mana? tanya ibu tersebut

“saya tinggal di dayah paloh gadeng” jawab saya

“Saya mengajar di SD Paloh gadeng selama 38 tahun, 2 tahun di… (penulis lupa tempatnya), baru 2 tahun ini pensiun”



Sejenak setelah itu saya merenung, ibu ini telah mengajar selama 40 tahun. Saya? Baru mengajar selama 5 tahun, angka yang cukup jauh.

karena ibu tersebut mengajar di gaji oleh pemerintah yah terpaksa berhenti mengajar ketika telah dipensiunkan oleh pemerintah.

Berbeda dengan kami di pesantren, kami mengajar karena Allah dan berhenti mengajar ketika telah ‘dipensiunkan’ oleh Allah atau ketika kami memilih berhenti mengajar karena kesibukan lainnya.
Yang masalahnya apakah saya akan terus mengajar hingga akhir umur saya, atau malah akan disibukkan oleh perkara lainnya?
Saya teringat tulisan di diary yang pernah ditulis oleh abang saya. Dan saya telah membaca diary yang ditulisnya dari awal hingga akhir. Dan diary tersebut sekarang berada ditangan saya. Lah kenapa? Apalagi kalau bukan karena teledor dalam menjaga barang-barang miliknya (Mungkin nanti saya ceritakan dalam tulisan lain). Ini merupakan salah satu diary yang ditulisnya dan masih banyak diary-diary yang entah kemana rimbanya, kalau penasaran tanya saja sendiri.

“Ya Allah kini ketika masih di pesantren aku masih bisa berlama-lama i’tiqaf di masjid, menghabis waktu dengan berzikir dan membaca Al-Quran. Dan i’tiqaf adalah sesuatu yang membahagiakan.

Ya Allah.. Aku pun masih bisa mengajar ilmu mantiq, tafsir, ilmu bayan, ini pun sesuatu yang sangat membahagiakan.

tapi… Ya.. Allah apakah ini hanya selama belum kawin? 

Ya Allah apakah setelah kawin aku akan disibukkan dengan dengan mencari nafkah untuk anak dan istriku sehingga menghilangkan kesempatan i’tiqaf dan mengajarku,,

Ya Allah berikan ketetapan pada hatiku agar selalu mau ber’tiqaf dan juga gairah mengajarku tak pernah surut.

Ya allah jangan sibukkan aku dengan mencari nafkah dengan mengurangi ibadahku pada Mu.

Ya Allah mudahkan aku dalam segala urusanku.

Ya.. Engkau Maha berkehendak, jatuhkan kehendak Mu padaku apa Engkau sukai ya Allah.. Aku hanyalah hamba Mu yang tidak bisa mengatakan tidak.

Diary ini ditulis tahun 2003, 14 tahun silam, mungkin saja beliau tidak pernah ingat bahwa pernah menulis ini.  Dan kini beliau sesuai dengan do’anya sibuk dengan mengajar setiap hari; subuh, zuhur malam dan tiada kata libur di kamusnya.
Dan tulisan ini menjawab kerisauan teman saya Muhammad Iqbal, kita nanti kerja apa setelah kawin? Kita tetap akan mengajar seumur hidup kita dan menjawab kerisauan teman saya Marzuqi Oke yang beberapa hari belakangan ini riuh menanyakan pada saya, bagaimana caranya agar facebook meramal hidup kita ke depan? Hahaha

Berobat ke Poli THT Bagian 2

Selasa, 14 Maret 2017

Saya sudah berkunjung ke RS Cut Meutia sebanyak 4 kali, dua kali berkonsultasi dengan dokter lukman dan dua kali dengan dokter Indra, lengkap sudah. Dan ini merupakan kunjungan saya yang ke 5 kalinya, dan hari ini saya ingin berkonsultasi dengan dokter Indra.

Saya telah tiba di RS pagi benar. Setelah mengambil nomor undian saya memilih duduk di kursi yang ada di depan poli THT. Saya tidak mau berdesak-desakan di tempat penyerahan berkas.

Di kursi itu hanya sendiri, tidak ada orang lain. Perawat berlalu lalang sibuk men scan mukanya di finger. Tak lama kemudian datang ibu paruh baya dan memilih duduk di samping saya. Saya berbincang-bincang panjang lebar dengan ibu tersebut, dan sama seperti saya beliau juga berobat di THT dan sama-sama berangkat dari Kr. Geukuh.

Kemudian saya kembali ke tempat penyerahan berkas, dan setelah nomor undian saya dipanggil saya pun menyerahkan berkas dan kembali duduk di depan poli THT.

Dan hari ini di depan poli THT saya melihat seorang ibu dan sepertinya saya mengenal beliau, dan saya meyakini beliau salah seorang pengguna facebook yang berteman dengan saya. Beliau ditemani seorang perempuan bercadar hitam dan jilbab hitam.

Sambil menunggu panggilan saya membaca novel Andrea Hirata: Ayah di aplikasi ijak. Dan saya pun berusaha menjadi sabari bin insyafi dalam menunggu antrian ini.

Dan akhirnya saya dipanggil..

“Bagaimana saifannur?” Tanya dokter Indra mengawali perbincangan.

“Dioperasi aja dokter” jawab saya. Pada pertemuan yang lalu dokter indra telah menyarankan untuk dioperasi.

“Kita operasi hari senin ya, hari minggu masuk RS, kita operasi dulu mengecilkan konka setelah itu meluruskan tulang hidung” jelas dokter indra.

“Maksudnya dua kali operasi dok?” Tanya saya kurang paham.

“Iya.. Tulang hidungnya kan bengkok” jawab dokter indra

“Operasi keduanya kapan dok” Saya benar-benar tak paham dengan penjelasan dokter indra

“Setelah sembuh operasi pertama” sahut dokter indra

Membayangkan dua kali operasi sangat mengerikan bagi saya, operasi untuk pertama kali saja belum bisa saya bayangkan.

“Gak bisa operasinya sekaligus saja dok” tanya saya

“Tidak bisa.. Nanti lengket” jelas dokter indra. Saya kurang paham penjelasan dokter indra tapi saya bisa memahami melakukan operasi sekaligus sedikit beresiko.

“Kalau dioperasi sekaligus bisa sih”,jelas dokter indra

“Bagaimana, dioperasi sekaligus atau dua kali?” tanya dokter indra ketika melihat saya memaksa operasi sekaligus.

“Operasi konka saja dulu lah dokter” sahut saya. Saya tidak mau ambil resiko, toh dokternya menyarankan dua kali operasi.

“Dok..  Operasinya bius total atau lokal?” Tanya saya.  “Bius total lah, kalau bius lokal nanti sakit” jawab dokter.

Yang menyarankan pertanyaan ini kepada saya yaitu sahabat karib saya Raisuddin Saputra setelah ia menceritakan beberapa cerita horor.

Dokter Indra pun menulis resep obat

“Sebelum ambil obat di farmasi pergi ke laboratorium dulu ya!, tau kan dimana laboratorium”
Perawat yang duduk di meja itu menerangkan sambil bertanya ke saya.

“Tidak buk”

Lalu perawat itu menjelaskan jalan menju ke laboratorium.

“Setelah ada hasil lab kembali lagi ke sini ya, biasanya hasilnya keluar pukul 1 lewat” kata perawat yang ada di ruang poli THT sambil menyerahkan selembar kertas yang harus saya bawa ke lab.

Saya pun menyusuri jalan yang ditunjuk perawat tadi dan akhirnya saya sampai di labotarium. Saya menyerahkan kertas yang diserahkan perawat tadi pada petugas labotarium

“Ditunggu ya, nanti kami panggil” kata petugas labotariaum tersebut.

Saya pun duduk di kursi tunggu yang disediakan di ruang labotarium, saya melihat cukup banyak orang lain yang juga sedang menunggu. Entah menunggu hasil, atau menunggu dites,

Tak lama kemudian nama saya dipanggil, saya disuruh duduk di kursi yang telah disediakan. Lalu perawat yang bertugas di lab mengikat tangan kiri saya dengan pengikat dan mengambil jarum suntik untuk mengambil darah saya. saya agak sedikit takut. Untuk menghilangkan ketakutan saya bermain facebook dengan tangan saya. Ketika perawat menusuk tangan saya dengan jarum suntik saya sedang asik membalas komentar teman saya di facebook. Dan ternyata tusukan itu tidak menyakitkan sama sekali.

“Hasil tesnya nanti pukul 1.30 ya” kata perawat tersebut. Saya pun keluar dari lab.

Menunggu hasil lab

Tadi pagi saya berencana tetap mengajar seusai shalat zuhur karena prediksi saya barangkali pukul 12.30 urusan saya di rumah sakit selesai, nyatanya meleset dari perkiraan saya. Saya terpaksa menelpon salah seorang dewan guru untuk menggantikan mengajar kelas saya.

Keluar dari lab perut saya mulai keroncongan, saya keluar dari rumah sakit mencari makanan, sebenarnya di rumah sakit koq kantinnya.

Pukul 1.30 saya kembali ke lab, dan menunggu sebentar. Akhirnya perawat menyerahkan hasil lab ke saya.

Saya kembali lagi ke ruang THT untuk menyerahkan hasil lab. Dan dari ruang THT saya disuruh pergi ke ruang edukasi  “nanti kembali lagi kesini ya” kata perawat di ruang THT

Saya mengekor seorang perawat yang ditugaskan untuk menunjuk jalan menuju ruang edukasi. Setibanya di ruang edukasi ada dokter yang mewawancarai saya

“Ada riwayat alergi obat-obatan” tanya dokter yang memakai baju hijau

“Tidak”

“Pernah asma?” tanyanya lagi

“Pernah” Jawab saya

“Saat asma pakek obat semprot ke mulut” tanya dokter 

“Bukan, saya pakai obat oral” sahut saya

“Apa nama obatnya?” 

“Tidak tau”

“Sekarang sedang asma?”

“Tidak”

Ketidaktahuan tentang nama obat asma yang saya konsumsi wajar saja karena saya tidak pernah mengkonsumsi obat asma dalam setahun terakhir. Saya tidak terserang asma dalam setahun terakhir. 

Dan kedepannya saya ingin mencatat semua obat yang saya konsumsi.

keluar dari ruang ini saya kembali ke ruang THT.

“Hari minggu masuk rumah sakit ya, paling telat pukul 2 siang, Hari senin operasi” Kata perawat yang berada di ruang THT sambil menjelaskan berkas-berkas yang harus saya bawa pada hari minggu.

Dan saya pun pulang. Dan saya sangat lelah..

Berobat ke Poli THT (Bagian 1)

​Kamis, 23 Februari 2017

Tadi pagi saya ke RSU Cut Meutia untuk memeriksa hidung saya. Sebelumnya saya terlebih dulu mengambil surat rujakan di puskesmas simpang mulieng. 
Saat di puskesmas simpang mulieng sebelum diberi surat rujukan saya diperiksa terlebih dahulu. 

“Apakah polip dok”? Tanya saya pada dokter yang memeriksa saya. “Bukan, cuma konka saja” (maksudnya pembesaran konka). Setelah diperiksa sambil menunggu surat rujukan saya mencoba browsing di mbak google apa itu konka, karena saya tidak tau apa konka itu, baru kali ini mendengarnya. Dan yang mengherankannya, kenapa saya tidak menanyakan pada dokter tadi.

Seusai mengambil surat rujakan saya bergegas ke RSU Cut Meutia. 

Sesampainya di rumah sakit saya langsung mengurus administrasi yang tidak begitu ribet, tentunya kalau kamu sudah tau caranya, dan berkasnya sudah lengkap. Kalau tidak yah kamu harus kudu bertanya dulu. Ada orang yang ketika dipanggil menyerahkan berkas, ternyata berkasnya belum di fotokopi, dan harus balik tempat foto kopi. 

Dan akhirnya saya terdampar di poli THT, dan saya harus menunggu giliran untuk dipanggil, di samping saya duduk seorang ibu paruh baya yang bercerita bahwa ia menderita sinusitis, sekarang ia ke THT bukan untuk berobat sinusitis tapi telinganya sedang bermasah, juga duduk di samping saya pemuda yang baru beberapa hari menjalani operasi polip dan sinusitis, ia bercerita tentang betapa sakitnya ketika tampol di keluarkan dari hidung. 

Cerita dari pasien penunggu ini kalau ditulis sudah jadi satu novel mungkin, tapi saya belum juga dipanggil. Dan setelah lama menunggu saya merasai bahwa saya harus ke wc terlebih dulu, saya berputar-putar mencari wc, “dimana sih wc, apa rumah sakit ini tidak punya wc” saya menggurutu dalam hati dan saya benar-benar tidak menemukan wc, karena khawatir dipanggil saya pun kembali, saya harus melupakan wc terlebih dahulu. 

Saya pun masuk, setelah nama saya dipanggil. Dan akhirnya saya bertemu dokter THT. “cuma alergi” kata dokter setelah memeriksa hidung saya. “Bukan polip dok” tanya saya meyakinkan. “Bukan, jangan lupa minum obatnya dan hindari debu dan dingin” jawab dokter. 

Selasa, 28 Februari 2017

“Tidak mengecil” Kata dokter THT setelah memeriksa hidung saya. 

“Bagaimana kalau kita kecilin?” Tanyanya lagi. Saya diam saja sambil senyum-senyum saja. 

“Ada mengganggu?” Dokter menambahkan pertanyaannya lagi. 

“Takut ya dioperasi?” Lanjut dokter

“Saya kasih obat sekali lagi ya?”

Senin, 6 Maret 2017

Hari ini kembali lagi ke RSU Cut Mutia untuk memeriksa hidung. Setelah menyerahkan berkas yang diperlukan saya kebelet pipis. Tidak mau kejadian kemarin capek mutar-mutar tidak ketemu juga toilet kali ini saya berinisiatif langsung menuju ke musalla. Saya berpikir setiap musalla pasti menyediakan toilet. 

Dan saat masuk ke wc tidak sengaja nemu tulisan ini di dinding wc. 

Lalu bagaimana maksudnya dengan tulisan ini?  Siapa yang bisa menjelaskannya.. 😁 
Hari ini di poli THT cukup banyak pengunjung. Saya sedikit menyesal, kenapa tidak esok saja saya berobatnya. 

Sambil menunggu dipanggil saya membaca buku Notes From Qatar 2 dari pada bengong tidak jelas. 

Setelah menghabiskan puluhan halaman buku akhirnya saya dipanggil juga. Ketika masuk ke ruang dokter, saya baru mengetahui hari ini yang bertugas bukan dokter Indra, dua kali ke poli THT selalu dokter Indra. Hari ini yang bertugas dokter Lukman Hakim Siregar, saya agak sedikit was-was, jangan-jangan nanti diagnosanya berbeda. 

“Ini harus di kerok, tulang hidungnya bengkok” kata dokter lukman setelah memeriksa hidung saya dan melihat buku riwayat kunjungan berobat saya. 

“Walau dikasih obat tidak ngefek” lanjutnya. 

“Coba di musyawarah dengan keluarga agar bisa diatur jadwal operasinya” tambahnya. 

Setelah itu dokter menulis resep obatnya dan lalu saya ke bagian farmasi untuk mengambil obatnya. 

Pada kunjungan yang lalu, dokter Indra cuma bilang harus dikecilin. Tidak mengatakan penyebabnya karena tulang hidung sayang bengkok.

Jum’at, 10 Maret 2017

Ini merupakan kunjungan ke 4 saya berobat di poli THT RSU Cut Meutia. Tujuan kedatangan hari ini ingin menanyakan jadwal operasi. Harusnya saya perginya hari kamis kemarin, tapi karena ada acara intat linto teman saya makanya kunjungan berobat saya majukan. 

Setelah mengunjungi poli THT beberapa kali saya menyadari kesalahan saya, kenapa saya tidak pernah menanyakan siapa dokter yang bertugas mulai dari hari senin hingga hari jumat sehingga saya bisa mengatur jadwal kunjungan saya dan bertemu dengan dokter yang saya suka. Karenanya tadi setelah keluar dari ruang dokter saya bertanya pada perawat yang duduk di depan komputer “Dokter Indra hari apa tugasnya buk?”, “hari selasa dan kamis”

Sebenarnya hari ini saya ingin berjumpa dengan dokter indra namun kalaupun bukan dokter indra saya pun tidak mempermasalahkannya, karena walaupun dokternya beda saya tetap dioperasi oleh ahlinya dan di rumah sakit ini. 

Hari ini adalah hari jum’at (dan semua orang pun tau), bagi laki-laki hari jumat berbeda dengan hari lainnya. Laki-laki hanya memiliki waktu yang sedikit di hari ini karena ada kewajiban yang dilaksanakannya. Dari semalam saya membuat planning bahwa saya harus sampai di rumah pukul 8.00 pagi, agar urusannya cepat kelar sebelum jumat. Pagi benar. Dan saya tau dokter pasti belum datang pukul tersebut. Namun setidaknya nanti saya yang dipanggil pertama kali masuk ke ruang THT dan saya merasa tidak akan mati disebabkan bosan menunggu karena saya punya rencana yang brilian. 

Agar berjalan sesuai rencana, saya hari ini rest dari olahraga. Karena kalau saya berolahraga pasti selesainya pukul 8.00 pagi, berhubung waktu subuh mulai telat. 

Saya berangkat pukul 7.45 pagi dan berharap sampai dalam waktu 15 menit ke buket rata dan sialnya cuaca pagi ini cukup dingin padahal saya telah memakai jacket, saya tidak bisa memacu sepeda motor dengan cepat. 

Saya tiba di rumah sakit dan langsung memarkirkan sepmor saya. Petugas parkir memasang nomor parkir di sepmor dan menyerah nomornya ke saya. 

“Uangnya” kata petugas parkir mengingatkan saya yang mulai melangkah meninggalkan tempat parkir

“Ohh ya, maaf saya lupa” kata saya sembari menyerahkan uang lembaran 5000 ke petugas parkir. Dan petugas parkir mengembalikan sisanya dua ribu ke saya. Saya menggerutu dalam hati “sejak kapan uang parkir naik menjadi 3000, padahal tiga kali kunjungan cuma 2000”. “Mungkin alasannya tidak punya uang kembalian seribu” gumam saya dalam hati. “Ah… Ikhlaskan saja” mencoba menenangkan diri saya. Dan saya benar-benar tidak bisa mengikhlaskan. 

Dan kemudian ketika pulang saya tau bahwa hari ini parkir dikutip 3000, saya mendengar ketika seseorang menanyakan berapa ongkos parkir pada petugas parkir. 

Saya langsung menekan tombol untuk mengambil nomor antrian, dan hari ini saya memecahkan rekor karena mendapatkan nomor antrian 61, tiga kali kunjungan saya mendapatkan nomor undian 400 sekian, dan petugas yang duduk di samping tempat pengambilan menyerahkan semacam brosur ke saya. Saya pun melihat brosur tadi, isinya tentang anjuran menjaga kesehatan ginjal. Pembagian brosur ini memperingati hari ginjal sedunia yang jatuhnya pada tanggal 9 maret. Pantas saja saat intat lintoe hari kamis saya melihat spanduk tentang ajakan menjaga ginjal. Dan hari ini tanggal 10 maret, “mungkin brosur ini tidak habis dibagi kemarin” pikir saya. 

Setelah nomor antrian dipanggil, saya pun menyerahkan berkas yang diperlukan. Dan setelah itu saya langsung mengambil tempat duduk di depan ruang THT. 

Dan saya pun menjalankan rencana brilian tadi. Menunggu sambil membaca. Walaupun saya dipanggil 2 jam mendatang saya tidak mempermasalahkan, sementara waktu saya masuk dalam dunia imajinasi. 

Saya ingin melanjutkan membaca novelnya Ilana Tan, In a Blue Moon. 

Ilana Tan merupakan salah satu penulis favorit saya. Novel-novelnya cukup bagus menurut saya. 

Saat membacanya saya mencoba mengontrol diri untuk tidak tertawa dan senyum-senyum sendiri. Karena saya sedang berobat di poli THT bukan di poli kejiwaan.

Setelah menamatkan novel Ilana Tan akhirnya saya dipanggil. Hari ini yang bertugas adalah dokter Lukman Hakim Siregar.

“Kalau dioperasi bagaimana dok?” Tanya saya membuka percakapan.

“Boleh, tapi jangan di sini” sahut dokter

“Di rumah sakit kesrem saja” sambungnya

Awalnya saya menduga akan dirujuk ke Banda Aceh, dan ternyata bukan.

“Masuk tanggal 20 dan kita operasi tanggal 21. Karena untuk beralih dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya harus berselang waktu 1 minggu” dokter menambahkan penjelasannya.

“Dibawa surat rujukan dari pukesmas yang dituju ke RS Kesrem, BPJS dan berkas lainnya yang diperlukan, seperti biasanya” jelas doktet dengan rinci.

“Bagaimana jadi gak, biar saya buat surat pengantar dari saya?” Tanya dokter memastikan keputusan saya.

“Jangan dulu dok, berobat aja dulu” jawab saya.

Saat berangkat ke rumah sakit tadi pagi saya sudah membulatkan keputusan “DIOPERASI”, ketika dokter menyebut tempat operasinya di RS Kesrem saya agak sedikit ragu. Alasannya karena mak saya lebih suka di RS Cut Meutia, itu saja. Dan abang saya pun menyarankan di Rs Cut Meutia.

Saya harus bertemu dokter Indra hari selasa ini.

Melelahkan memang bolak-balik ke rumah sakit. Tapi operasi itu bukan perkara enteng seperti pangkas rambut, harus dipikir matang-matang.

Buku Yang Terbaca Pada Bulan Januari & Februari

Haloo sobat semua.. Sudah cukup lama gak buka blog, dan kali ini saya kembali berjanji pada diri saya untuk tidak menelantarkan blog seperti ini. Setiap mengingat blog perasaan bersalah saya menyeruak, koq blog dibiarkan sepi gitu. Emangnya belakangan ini kemana saja? Saya tidak kemana-kemana. Saya merasa saja saat itu butuh istirahat dari kegiatan ngeblog. Dan benar-benar ingin memfokuskan diri untuk banyak membaca. Saya merasa penulis yang tidak banyak membaca tulisannya tidak punya ruh sama sekali dan juga di awal tahun 2017 saya sudah membuat target untuk lebih banyak membaca, mau tidak mau saya harus bisa berhemat hemat dalam menggunakan waktu. Hahaha

Dua bulan ini saya benar tergila-gila dalam membaca, dan lagi pula saya punya banyak waktu luang karena kegiatan mengajar saya di pesantren lagi libur karena ujian dan pemilukada. 

Berikut ini buku ini buku-buku yang saya baca dalam dua bulan ini. 



Buku-buku yang terbaca dalam bulan januari;  

  1.  Rindu Sebatang Pohon, refleksi keteladanan; W.A.A Ibrahimy
  2. Fiqih Sesat, analisis madzhab fil islam; M. Badruddin Fuad
  3. Potret Ajaran Muhammad Dalam Sikap Santun Akidah NU;  Forum Kail Mas 2014
  4. Asbabul Wurud Hadits-Hadits Nabi ;An Nakhrawie.
  5. Negeri 5 Menara; A. Fuadi
  6. Anti Mazhab

Buku-buku yang terbaca bulan februari:

  1. Bulan Terbelah di Amerika; Hanum Salsabila Rais
  2. Betang Cinta Yang Tumbuh Dalam Diam; Shabrina Ws
  3. Ranah 3 warna; A. Fuadi
  4. Ayahku Bukan Pembohong; Tere Liye
  5. Negeri Para Bedebah; Tere Liye
  6. Negeri di Ujung Tanduk; Tere Liye
  7. Summer in Seoul; Ilana Tan
  8. Autum in Paris;  Ilana Tan
  9. Winter in Tokyo; Ilana Tan
  10. Spring in London; Ilana Tan 
  11. Sunshine Becomes You; Ilana Tan
  12. The Great Episodes of Muhammad; Dr Al Buthy. 

Banyak banget kan? Hahaha..  Tapi kebanyakannya sih fiksi. Kalau baca fiksi tidak butuh konsentrasi penuh, dan kita hanyut dalam imajinasi jadi gak pernah bosan bacanya. Dan paling banyak novel dari Ilana Tan. Jujur saja saya sangat suka dengan novelnya. Dan di bulan maret ini ada lagi novel dari Ilana Tan yang ingin saya habiskan.

Kalau sobat sudah berapa banyak buku yang dihabiskan dalam dua bulan ini?  

Ummi Maktum dan Kita 

Surat Abasa turun disebabkan oleh nabi bermasam muka ketika didatangi oleh ummi maktum. Dan saya tidak ingin membahas masalah kenapa nabi sampai bermasam muka. 

Saya ingin membahas dari sisi lain, tujuan kedatangan ummi maktum. 

Sebenarnya apa tujuan dari ummi maktum menjumpai nabi? 

Pada ayat selanjutnya Allah mengatakan “Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”

Jadi ummi maktum menjumpai nabi untuk meneguk beberapa ilmu dari nabi. 

Lalu kenapa? 

Coba bayangkan kondisi ummi maktum ketika ingin berjumpa dengan nabi, beliau dalam keadaan buta. 

Apakah ummi maktum berjalannya adanya penuntun atau tidak? Saya tidak mengetahuinya, yang jelas dengan kondisi tersebut sangat menyulitkan ummi maktum. Namun keterbatasan yang beliau tidak lantas membuatnya tidak bersemangat dalam menuntut ilmu. Beliau tidak peduli dengan keterbatasan, hausnya ilmu membuat keterbatasan bukanlah sebuah kendala. 

Lalu bagaimana dengan kita? Kita punya seribu alasan untuk tidak menghadari majlis ilmu, “tidak punya waktulah, “ngantuk lah” dan seabrek alasan lainnya. Padahal Allah masih memberikan nikmat mata untuk kita, yang membuat kita lebih mudah menghadiri majlis ilmu.

Syukur adalah seorang hamba yang mempergunakan semua nikmat yang diberi oleh Allah pada tempat tujuannya diciptakan hamba tersebut. Allah menciptakan hambanya agar si hamba menyembah Nya. Maka semua nikmat harus dipergunakan dalam rangka menyembah Allah. 

Menghadiri pengajian menurut saya adalah salah satu wujud syukur. 

Iseng Dan Ketidaktahuan 

Saat kakak saya mengeringkan pakaiannya dengan mesin cuci karena rasa penasaran saya dengan bagaimana kerja mesin cuci mengeringkan pakaian saya mencoba membuka penutup tabung pengering pakaian. Tiba-tiba mesin cucinya berhenti. Kakak saya berteriak “jangan dibuka..!” . Oh ternyata mesin cucinya akan berhenti otomatis bila penutup tabung pengering dibuka. Saya baru ini mengetahui. Kakak saya menjelaskan, mungkin saja mesin cuci dibuat seperti  untuk menghindari dari anak-anak. Kan berbahaya kalau sampai menyentuh di dalamnya. 

Padahal di tabung pengering sudah ada peringatan untuk tidak menyentuhnya saat mesin bekerja. 😁

Bagaimana dengan Anda, apakah juga pernah mengalami kejadian seperti saya? 

2017 dan Semangat Membaca 

Walaupun tahun baru sudah lewat 6 hari tapi tak mengapalah menulis hal-hal yang berbau tahun baru. 

Awal tahun 2016 lalu saya pernah membuat target membaca buku minimal 2 buku dalam sebulan atau 24 buku dalam setahun. 

Lalu apakah targetnya berjalan lancar? Tidak. Saya benar-benar gagal dalam target ini. Tahun 2016 saya cuma membaca beberapa buku. 

Apa penyebabnya hingga saya gagal? Yah..  Karena saya tidak mempunyai komitmen yang kuat dalam merealisasikan target yang sudah saya tentukan. Saya lebih memilih menggunakan waktu luang untuk menonton anime ketimbang membaca buku atau saya lebih nongkrong di warungkopi ketimbang menikmati sebuah buku. 

Harapan di tahun 2017 saya lebih meningkatkan kuantitas membaca saya. Saya harus pandai membagi waktu, untuk membaca buku dan menonton anime. 

 Bagaimana dengan Anda, berapa banyak buku yang terbaca di tahun 2016?

Trauma Masa Lalu dan Rasa Waswas 

#PrayforPidieJaya

#PrayforAceh

7 Desember 2016

Subuh pada hari tersebut saya baru saja bangun tidur dan masih ditempat tidur, tiba-tiba saya merasa goyangan yang cukup kuat karena baru bangun tidur saya merasa bengong kenapa nih tempat tidur bergoyang, saya baru tersadar ini gempa, saya lari keluar dari kamar saya.

Dan bukan hanya saya, seluruh santri berhamburan keluar dari kamar masing-masing dan santri yang berada di tingkat dua parah lagi, mereka berdesak-desakan di tangga untuk turun ke bawah. 

Setelah merasa aman, kami masuk ke kamar masing-masing. Dan saya langsung membuka facebook untuk mencari info daerah mana saja terasa gempanya. Saat itu saya melihat cukup banyak yang memposting status gempa, jadi hampir seluruh aceh merasakan gempa. dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata daerah pidie saya ternyata rusak parah, saat masih subuh sudah ada orang yang mengunggah foto bangunan roboh, yahh karena masih subuh gambarnya masih tidak jelas, banyak yang gelap. Paginya mulai banyak orang yang mengunggah foto yang lebih jelas lagi.

Dan waktunya paginya kami baru mengetahui bahwa kerusakan di Pidie Jaya cukup parah dan banyak menelan korban. Penyebabnya karena pusat gempanya di pidie jaya, ditambah lagi pusat gempanya di darat dan termasuk dangkal.

Saat seperti ini medsos seperti facebook cukup punya andil dalam menyebarkan berita dengan cepat ke seluruh daerah, bahkan mengalahkan situs-situs berita, ini merupakan hal yang positif. Tapi kadang kalanya medsos itu menyebalkan yaitu ketika cukup banyak berita hoax yang tersebar.

Saya tinggal di Aceh Utara; 129,4 km jauh dari pidie jaya. dan daerah kami aman-aman saja, tidak ada bangunan yang roboh.

Kepanikan

Saat  itu akun facebook bmkg memposting status gempa, dan dalam postingannya pihak bmkg sudah mengatakan bahwa gempa ini tidak berpotensial tsunami. Namun cukup banyak orang yang berkomenar “apakah berpotensi tsunami?” saya heran apa ini orang tidak membaca status yang dibagikan bmkg dan langsung berkomentar.

Saya rasa semuanya karena kepanikan yang luar biasa dan masih tersimpan trauma masa lalu. Aceh pernah luluh lantak oleh tsunami yang terjadi usai gempa. Jadi saat gempa terjadi, banyak orang yang bukan takut  gempa, mereka takutnya tsunami.

11 Desember 2016

Pagi hari tersbut tepatnya sekitar pukul 10 pagi saya sedang mengajar, tiba-tiba terasa gempa yang kuat kami berlarian ke luar kelas. 

Setelah reda, saya berkata pada murid “ayook kita masuk kelas, kalau gempa lagi kita berlarian lagi”

Gempa susulan hanya itu saja, hari jum’at kemarin tanggal 9 desember juga terjadi gempa susulan. Walaupun saya sendiri tidak merasakannya, entah saya lagi tidur. 

Hingga kini saya sendiri belum merasa sepenuhnya aman, saya merasa waswas akan terjadi gempa susulan. 

Mohon doa dari teman-teman agar tidak ada lagi gempa susulan.