Menjaga Semangat Agar Tetap Menyala 

Bagi blogger pemula yang dibutuhkan adalah terus berlatih menulis setiap harinya sehingga lambat laun kualitas tulisannya meningkat. Itulah intisari dari tips dari blogger-blogger senior. 

Hal ini sangat mudah diucapkan, tapi prakteknya itu sulit. Mungkin dalam sehari dua hari atau seminggu semangatnya menggebu-gebu tapi apakah semangat itu akan terjaga hingga berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun. 

Saya merasakan kemalasan dalam diri saya tidak pernah menghilang. Ia muncul kapan saja. 

Tapi rutinya menulis hingga bertahun-tahun itu bukanlah hal yang mustahil. Bagi mereka yang sudah menulis sepanjang tahun mungkin ini hal yang sepele. Tapi bagi kami pemula keluar dari zona ini adalah hal yang berat.

Dulunya saya adalah orang yang sangat malas berolahraga, walaupun cukup banyak orang yang menyarankan saya berolahraga. Ramadhan tahun lalu menjadi tonggak perubahan besar dalam hidup saya. Seusai ramadhan tahun lalu saya mulai berolahraga dan kegiatan olahraga saya tidak pernah mengalami hiatus. Saya berolahraga setiap harinya kecuali pada hari-hari rest saja. Saya sudah berolahraga setahun penuh. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa kan? 

Kenapa saya begitu rajin berolahraga? Karena saya merasakan manfaat dari olahraga itu. Bagi saya olahraga bukanlah beban hidup tapi merupakan sebuah kesenangan hidup. 

Dalam ihwal menulis juga sama halnya. Hal pertama yang menggerakkan kita agar rajin menulis kita haruslah meyakini menulis setiap harinya punya manfaat yang hebat. Dan kegiatan menulis haruslah dijadikan sebagai kesenangan hidup, bukannya beban hidup. 

Sumber Gambar

Sabtu Menunggu BNHA

Kalau saya hari sabtunya tidak sabar menunggu keluarnya anime Boku No Hero Academia. 
Dan anime ini merupakan salah satu anime yang saya tunggu rilis season lanjutannya. Beberapa bulan yang lalu ketika mengetahui bahwa season 2 nya sudah dirilis saya begitu gembira dan ternyata season lanjutannya tidak menunggu waktu lama rilisnya. Beda halnya dengan nanatsu tanzai yang kini belum jelas kapan rilis season lanjutannya.

Sebenarnya ada beberapa anime yang sedang saya nonton tapi selama ramadhan saya hentikan dulu diantara Baruto, One Piece, dan Attack on Titan. 

Tentang Celana 

Judul tulisannya aneh banget. Sebenarnya dari tadi bengong mau nulis apa, tiba-tiba terbersit di pikiran saya untuk menuliskan kegalauan saya tentang celana (halah). 

Seperti yang Anda lihat, di atas adalah gambar saya dan celana yang saya pakai adalah celana milik saya. 

Ya. 

Saya berhasil dalam menjalani diet dan berhasil keluar dari zona obesitas setelah perjalanan yang sangat panjang. 

Saya bertekad menjalani diet mulai  ramadhan yang lalu. Berarti sudah setahun saya menjalaninya. Dan saya merasakan perubahan yang begitu drastis. Dulunya saya sama sekali tidak suka olahraga, sekarang malah tergila-gila dengan olahraga. 

29 syakban tahun lalu berat badan mencapai 96 kg. Luar biasakan hampir mencapai 100 kg. Dan sekarang berat badan saya 68.9 kg. Dulunya lingkar pinggang saya melebihi 100 cm dan sekarang menyusut tinggal 80 cm. 

Efeknya, baju dan celana yang dulunya tidak muat sekarang jadi muat kembali, dan ini merupakan hal yang sangat membahagiakan. Dan efek lainnya, baju yang dulunya muat sekarang longgar. 

Beberapa celana dan baju milik saya tidak bisa saya pakai lagi karena terlalu longgar. 

Alhasil, saya harus mengeluarkan uang untuk membeli celana dan baju.. 

Obrolan Pemangkas Rambut 

11.41 PM

Kam, 8 Jun 2017

Mata sudah cukup ngantuk tapi maksa juga menulis ini. 

Di tempat saya habis magrib turun hujan. Baru reda sekitar pukul 8. 00 Wib. Jadi malam ini shalat tarawihnya di rumah. 

Tadi siang saya pergi ke tempat pangkas rambut, rambut saya sedikit memanjang dan saya merasa tidak nyaman dengan rambut panjang. 

“Rambutnya belum beruban ya? Umurnya sudah berapa? Sudah tiga puluh?” tanya pemangkas. Saya tersenyum mendengar pertanyaan pemangkas ini. “Belum” jawab saya. “Dua Puluh Delapan?” tebak pemangkas. “Bukan, Baru 25 tahun” sahut saya. “Oww.. Pantas saja belum beruban” timpal pemangkas tersebut. 

 Emangnya muka saya mirip orang berumur 30 tahun ya? 😱

Obat Mamak

Kam, 8 Jun 2017
Tadi pagi pergi ke puskesmas ngambil obat mak. Dalam kunjungan sebelumnya dokter mengatakan mungkin tanggal 5 obatnya sudah ada. 

Obatnya diberikan per bulan dengan ketentuan harus ikut senam setiap pagi jum’at. 

Selama bulan ramadan senamnya libur. Sebenarnya sih tidak, kata mak saya karena permintaan peserta senam makanya diliburkan. 

Obat-obat yang diberikan:

1. Glimepiride 3 mg

(obat untuk diabetes) 

2. Amlodipine Besylate

(obat untuk darah tinggi) 

3. Acetylsalicylic acid 80 mg

(ini obat apa ya? Saya kurang tau. Cari saji di google)

Kenapa Ibadah Terasa berat di bulan Ramadhan? 

Siapa di sini yang tidak pernah jogging atau berlari? Coba lari untuk pertama kalinya cuma 10 menit saja, pasti Anda ngos-ngosan, merasa cukup lelah atau bahkan jantung terasa copot. Padahal larinya cuma 10 menit saja. Karenanya bagi pemula dalam berolahraga butuh peningkatan sedikit demi sedikit, tidak sekaligus. Pada awal kali berolahraga Anda harusnya berjalan cepat saja. Dan intensitasnya ditingkatkan sedikit demi sedikit menyesuaikan kemampuan jantung. 
Baiklah, sebenarnya bukan tentang lari yang ingin saya bicarakan. Tapi ini menyangkut ibadah dalam bulan ramadhan. Setiap berakhirnya ramadhan selalu muncul rasa penyesalan. Penyesalan karena telah menyia-nyiakan waktu yang begitu berharga. 
Dalam jiwa terasa pergolakan yang cukup kentara. Satu sisi kita sangat tau bulan ramadhan merupakan waktu yang cukup bernilai, di mana ibadah-ibadah digandakan berlipat-lipat. Di sisi lain kita tidak mampu memperbanyak ibadah. 
Kita cukup merasa iri dengan orang-orang yang berhasil mengkatamkan Al quran hingga 6 kali. Kita iri dengan orang-orang yang selalu berjamaah setiap waktu dan orang-orang yang shalat tarawih setiap malamnya. 
Dan sudah puluhan motivasi tentang ramadhan yang kita dengar, kita baca. Tapi semuanya tidaklah menggerakkan kita untuk beribadah. 
Kesalahannya dimana? 
Kesalahannya tidak ada persiapan menyambut ramadhan yang memadai. Tubuh kita merasa syok dengan perubahan tiba-tiba. 

Sebelum ramadhan tidak pernah melakukan shalat sunnah satu rakaat pun, pas ramadhan tiba-tiba melakukan 20 rakaat tarawih. Tentunya tubuh kita terasa cukup berat. 

Sebelum tiba ramadhan satu lembar Al-quran pun tidak terbaca setiap harinya, dan tiba-tiba di bulan ramadhan ingin menghabiskan 1 juz dalam sehari. Mulut mana yang tidak terasa berat.

Cara Cerdas Beriklan di Facebook

Pernah nonton Youtube? Rata-rata orang akan menjawab ‘pernah’. Kecuali kalau ditanyakan pada mak saya jawabannya ‘tidak’.

Bagaimana ketika konten yang Anda buka ada iklannya? Pasti Anda cepat-cepat ingin menekan ‘skip’  bahkan ketuka belum waktunya. Mungkin Anda berpikir begini “tujuan saya buka melihat iklan, menonton iklan buang-buang waktu saja”.

Begitu halnya dengan facebook. Apakah orang-orang membaca status iklan yang Anda posting di posting, mungkin kebanyakannya mengatakan ‘tidak’.

Kembali ke Youtube. Apakah ada orang yang menonton iklan hingga habis? Ada. Saya sendiri menonton iklan hingga berepisode-episode, tentunya iklan yang dikemas dengan menarik. Cukup banyak pembuat iklan sekarang yang kreatif, mereka sadar bahwa selama ini iklannya tidak menarik dan dilewatkan banyak orang. Iklan yang menarik menurut saya contohnya iklan Sprite, iklan BNI Syariah, atau iklan Tropicana Slim.

Iklan BNI syariah dengan judul “Tumpah di Tanah Mekkah” cukup menarik perhatian, bahkan saya menunggu-nunggu lanjutannya namun sayang berakhir di episode 4. Sama halnya dengan iklan tropicana slim dengan judul SORE: Istri dari masa depan, bahkan iklan menjadi perbincangan dimana-mana, dan membuat orang bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau tiba-tiba didatangi istri dari masa depan? 

Berbincang-bincang mengenai facebook,  saya cukup meyayangkan para pengguna facebook menggunakan facebook sebagai media iklannya tapi tidak tau caranya bagaimana.

Saya melihat beberapa cewek yang jualan online di facebook selalu statusnya cuma mengunggah foto barang-barang jualan. Captionnya “diorder sis”..Muak.

Begitu juga halnya dengan cowok. Mereka membombardir dinding facebook dengan iklan, malam, siang, pagi , status mereka tetap iklan.

Bayangkan kalau anda berteman dengan orang yang berbisnis sama sebanyak 20 orang. Status mereka sama persis alias copy paste, maka anda akan melihat status yang sama sebanyak 20 status. Belum lagi sehari bisa berkali-kali.

Saya sendiri kalau begini memilih membatalkan pertemanan, toh saya tidak mengenal mereka. Kalau opsi ini tidak memungkinkan saya memilih berhenti mengikuti dan tetap berteman. Itulah hebatnya facebook, punya banyak pilihan, berteman dan mengikuti, mengikuti tidak berteman atau berteman tidak mengikuti. Berbeda dengan twitter pilihannya cuma follow unfollow.

Solusinya? Buatlah iklan di facebook sekreatif mungkin. Hingga pengguna facebook mau meluangkan waktunya untuk membaca iklan Anda.

Dan gunakan format 4:1 , maksudnya 4 status pribadi, satu status iklan. Begitu juga foto. Atau format lainnya juga boleh, asal jangan melulu iklan.

Mereka pengguna facebook tidak mau berteman dengan toko, mereka manusia yang ingin berteman dengan manusia.

Kalau Anda tidak percaya tips saya. Silahkan batalkan pertemanan dengan semua orang. Dan bertemanlah sesama penjual online.

—-

Menulis ini sambil rebah-rebahan di musalla RSU Cut Meutia

30 menit lalu:

“Kapan diinfus buk?” Tanya saya pada perawat

“Nanti malam, operasi hidungkan? Sahut perawat.

“Iya. Sekarang bisa mutar-mutar dulu kan? Tanya saya. Perawat itu tersenyum, “bisa”

Saya segera meluncur ke musalla untuk menunaikan kewajiban, meninggalkan mak saya di ranjang. Tadi berangkat dari rumah pukul 12.00 siang, sesuai dengan amanah perawat di poli THT.

Ruang Privat dan Ruang Publik

Setelah menamatkan novel Bumi karangan Tere Liye di aplikasi ijak saya sangat penasaran dengan sekuel lanjutannya “Bulan”. Sayangnya di aplikasi ijak tidak tersedia, 0 copy. 

Saya tidak menyerah begitu saja, saya mencari di pustaka daring lainnya. Mulai dari ijogjakarta, imedan, iprobolinggo, ikaltim hingga ipusnas. Benar-benar gila. 

Ketika tidak menemukan novel yang dimaksud saya langsung menghapus aplikasi dan mendownload aplikasi pustaka lainnya. 

Hingga akhirnya saya mendarat di ipusnas , saya langsung mengketik ‘Tere Liye’ di kolom pencarian, namun saya kecewa ternyata di ipusnas juga 0 copy. Tapi kekecewaan saya terbayar ketika menemukan novel Tere Liye yang lainnya “Kau dan Sepucuk Angpau Merah”, bahkan saya menemukan novel Muara 1 tujuan dimana dua dari trilogi novel ini sudah saya baca.

“Bagus juga nih pustaka” gumam saya ketika melihat buku-buku yang tidak ada di aplikasi ijak.

Berfungsinya kolom pencarian sangat menguntungkan bagi saya, beda dengan pustaka pustaka yang lain di mana tombol pencarian tidak berfungsi hanya ijak yang benar-benar berfungsi. 

Saya iseng-iseng mengetik keyword ‘Hernowo’ dan hasilnya cukup mengejutkan, ternyata cukup banyak buku pak Hernowo di ipusnas. 

Saya kenal nama penulis ini karena pernah membaca bukunya yang berjudul “Langkah Mudah Membuat Buku Yang Menggugah”. Dan saya juga rutin membaca tulisannya di catatan facebook. 

Saya memilih sembarang buku karena tidak tau buku mana yang bagus. 

Dari banyak tulisan dibukunya banyak yang tidak saya pahami apa maksudnya, ketika saya tidak memahami saya langsung melewatkannya.

Dan ada juga beberapa gagsan yang cukup menarik bagi saya. Salah satunya mengenai menciptakan ruang privat dan ruang publik dalam menulis. 

“Tulisan itu tidak sekali jadi” tulisnya. 

Pertama kali kita harus menulis di ruang privat, dalam tulisan yang lainnya ia mengistilahkan “menulis untuk diri sendiri”. Ketika menulis dalam ruang privat ini kita mencurahkan semua ide yang kita miliki tanpa terikat oleh tetekbengek aturan bahasa. Menulis dalam ruang privat ini membuat kita bebas-sebebasnya tanpa tertekan dengan penilaian orang lain. 

Kedua ruang publik, setelah tulisan siap di ruang privat ketika kita membacanya pasti tidak teraturan, bahasanya cukup jelek. Dan setelah itu baru mengeditnya untuk publik. 

Kalau pertama kali langsung menulis untuk publik membuat ide kita tertahan, kita merasa tertekan dengan penilaian orang lain. Takut dianggap jelek sehingga membuat kita mengurungkan niat menulis. 

Saya juga penah mengalami hal seperti ini. Kalau saat membuat tulisan tujuannya untuk dipublish di blog pasti tulisan saya akan terhambat, tidak mengalir bahkan cukup sering berhenti di tengah jalan. 

Dan saya mencoba mempraktekkan teori pak hernowo, pertama menulis di ruang privat. Yah memang benar tulisan saya lancar dan saya merasa tidak tertekan ketika menulis. 

Setelah itu baru tulisan saya saya keluarkan ke ruang publik. Saat itulah saya baru melakukan pengeditan atau mengatur tulisan saya. 

Dan banyak lain gagasan-gagasn pak hernowo lainnya, mungkin kali lain akan menceritakannya. 

​Mengajar Seumur Hidup dan Doa yang diijabah

Dalam kunjungan saya berobat di poli THT kali ke 5 saya bertemu dengan seorang ibu paruh baya 


“Saya juga dari krueng geukuh”
sahut saya setelah ibu tersebut memperkenalkan dirinya ke saya dan mengatakan bahwa beliau berangkat dari Krueng geukuh.

“Ooooww… Kr. Geukuh di daerah mana? tanya ibu tersebut

“saya tinggal di dayah paloh gadeng” jawab saya

“Saya mengajar di SD Paloh gadeng selama 38 tahun, 2 tahun di… (penulis lupa tempatnya), baru 2 tahun ini pensiun”



Sejenak setelah itu saya merenung, ibu ini telah mengajar selama 40 tahun. Saya? Baru mengajar selama 5 tahun, angka yang cukup jauh.

karena ibu tersebut mengajar di gaji oleh pemerintah yah terpaksa berhenti mengajar ketika telah dipensiunkan oleh pemerintah.

Berbeda dengan kami di pesantren, kami mengajar karena Allah dan berhenti mengajar ketika telah ‘dipensiunkan’ oleh Allah atau ketika kami memilih berhenti mengajar karena kesibukan lainnya.
Yang masalahnya apakah saya akan terus mengajar hingga akhir umur saya, atau malah akan disibukkan oleh perkara lainnya?
Saya teringat tulisan di diary yang pernah ditulis oleh abang saya. Dan saya telah membaca diary yang ditulisnya dari awal hingga akhir. Dan diary tersebut sekarang berada ditangan saya. Lah kenapa? Apalagi kalau bukan karena teledor dalam menjaga barang-barang miliknya (Mungkin nanti saya ceritakan dalam tulisan lain). Ini merupakan salah satu diary yang ditulisnya dan masih banyak diary-diary yang entah kemana rimbanya, kalau penasaran tanya saja sendiri.

“Ya Allah kini ketika masih di pesantren aku masih bisa berlama-lama i’tiqaf di masjid, menghabis waktu dengan berzikir dan membaca Al-Quran. Dan i’tiqaf adalah sesuatu yang membahagiakan.

Ya Allah.. Aku pun masih bisa mengajar ilmu mantiq, tafsir, ilmu bayan, ini pun sesuatu yang sangat membahagiakan.

tapi… Ya.. Allah apakah ini hanya selama belum kawin? 

Ya Allah apakah setelah kawin aku akan disibukkan dengan dengan mencari nafkah untuk anak dan istriku sehingga menghilangkan kesempatan i’tiqaf dan mengajarku,,

Ya Allah berikan ketetapan pada hatiku agar selalu mau ber’tiqaf dan juga gairah mengajarku tak pernah surut.

Ya allah jangan sibukkan aku dengan mencari nafkah dengan mengurangi ibadahku pada Mu.

Ya Allah mudahkan aku dalam segala urusanku.

Ya.. Engkau Maha berkehendak, jatuhkan kehendak Mu padaku apa Engkau sukai ya Allah.. Aku hanyalah hamba Mu yang tidak bisa mengatakan tidak.

Diary ini ditulis tahun 2003, 14 tahun silam, mungkin saja beliau tidak pernah ingat bahwa pernah menulis ini.  Dan kini beliau sesuai dengan do’anya sibuk dengan mengajar setiap hari; subuh, zuhur malam dan tiada kata libur di kamusnya.
Dan tulisan ini menjawab kerisauan teman saya Muhammad Iqbal, kita nanti kerja apa setelah kawin? Kita tetap akan mengajar seumur hidup kita dan menjawab kerisauan teman saya Marzuqi Oke yang beberapa hari belakangan ini riuh menanyakan pada saya, bagaimana caranya agar facebook meramal hidup kita ke depan? Hahaha

Berobat ke Poli THT Bagian 2

Selasa, 14 Maret 2017

Saya sudah berkunjung ke RS Cut Meutia sebanyak 4 kali, dua kali berkonsultasi dengan dokter lukman dan dua kali dengan dokter Indra, lengkap sudah. Dan ini merupakan kunjungan saya yang ke 5 kalinya, dan hari ini saya ingin berkonsultasi dengan dokter Indra.

Saya telah tiba di RS pagi benar. Setelah mengambil nomor undian saya memilih duduk di kursi yang ada di depan poli THT. Saya tidak mau berdesak-desakan di tempat penyerahan berkas.

Di kursi itu hanya sendiri, tidak ada orang lain. Perawat berlalu lalang sibuk men scan mukanya di finger. Tak lama kemudian datang ibu paruh baya dan memilih duduk di samping saya. Saya berbincang-bincang panjang lebar dengan ibu tersebut, dan sama seperti saya beliau juga berobat di THT dan sama-sama berangkat dari Kr. Geukuh.

Kemudian saya kembali ke tempat penyerahan berkas, dan setelah nomor undian saya dipanggil saya pun menyerahkan berkas dan kembali duduk di depan poli THT.

Dan hari ini di depan poli THT saya melihat seorang ibu dan sepertinya saya mengenal beliau, dan saya meyakini beliau salah seorang pengguna facebook yang berteman dengan saya. Beliau ditemani seorang perempuan bercadar hitam dan jilbab hitam.

Sambil menunggu panggilan saya membaca novel Andrea Hirata: Ayah di aplikasi ijak. Dan saya pun berusaha menjadi sabari bin insyafi dalam menunggu antrian ini.

Dan akhirnya saya dipanggil..

“Bagaimana saifannur?” Tanya dokter Indra mengawali perbincangan.

“Dioperasi aja dokter” jawab saya. Pada pertemuan yang lalu dokter indra telah menyarankan untuk dioperasi.

“Kita operasi hari senin ya, hari minggu masuk RS, kita operasi dulu mengecilkan konka setelah itu meluruskan tulang hidung” jelas dokter indra.

“Maksudnya dua kali operasi dok?” Tanya saya kurang paham.

“Iya.. Tulang hidungnya kan bengkok” jawab dokter indra

“Operasi keduanya kapan dok” Saya benar-benar tak paham dengan penjelasan dokter indra

“Setelah sembuh operasi pertama” sahut dokter indra

Membayangkan dua kali operasi sangat mengerikan bagi saya, operasi untuk pertama kali saja belum bisa saya bayangkan.

“Gak bisa operasinya sekaligus saja dok” tanya saya

“Tidak bisa.. Nanti lengket” jelas dokter indra. Saya kurang paham penjelasan dokter indra tapi saya bisa memahami melakukan operasi sekaligus sedikit beresiko.

“Kalau dioperasi sekaligus bisa sih”,jelas dokter indra

“Bagaimana, dioperasi sekaligus atau dua kali?” tanya dokter indra ketika melihat saya memaksa operasi sekaligus.

“Operasi konka saja dulu lah dokter” sahut saya. Saya tidak mau ambil resiko, toh dokternya menyarankan dua kali operasi.

“Dok..  Operasinya bius total atau lokal?” Tanya saya.  “Bius total lah, kalau bius lokal nanti sakit” jawab dokter.

Yang menyarankan pertanyaan ini kepada saya yaitu sahabat karib saya Raisuddin Saputra setelah ia menceritakan beberapa cerita horor.

Dokter Indra pun menulis resep obat

“Sebelum ambil obat di farmasi pergi ke laboratorium dulu ya!, tau kan dimana laboratorium”
Perawat yang duduk di meja itu menerangkan sambil bertanya ke saya.

“Tidak buk”

Lalu perawat itu menjelaskan jalan menju ke laboratorium.

“Setelah ada hasil lab kembali lagi ke sini ya, biasanya hasilnya keluar pukul 1 lewat” kata perawat yang ada di ruang poli THT sambil menyerahkan selembar kertas yang harus saya bawa ke lab.

Saya pun menyusuri jalan yang ditunjuk perawat tadi dan akhirnya saya sampai di labotarium. Saya menyerahkan kertas yang diserahkan perawat tadi pada petugas labotarium

“Ditunggu ya, nanti kami panggil” kata petugas labotariaum tersebut.

Saya pun duduk di kursi tunggu yang disediakan di ruang labotarium, saya melihat cukup banyak orang lain yang juga sedang menunggu. Entah menunggu hasil, atau menunggu dites,

Tak lama kemudian nama saya dipanggil, saya disuruh duduk di kursi yang telah disediakan. Lalu perawat yang bertugas di lab mengikat tangan kiri saya dengan pengikat dan mengambil jarum suntik untuk mengambil darah saya. saya agak sedikit takut. Untuk menghilangkan ketakutan saya bermain facebook dengan tangan saya. Ketika perawat menusuk tangan saya dengan jarum suntik saya sedang asik membalas komentar teman saya di facebook. Dan ternyata tusukan itu tidak menyakitkan sama sekali.

“Hasil tesnya nanti pukul 1.30 ya” kata perawat tersebut. Saya pun keluar dari lab.

Menunggu hasil lab

Tadi pagi saya berencana tetap mengajar seusai shalat zuhur karena prediksi saya barangkali pukul 12.30 urusan saya di rumah sakit selesai, nyatanya meleset dari perkiraan saya. Saya terpaksa menelpon salah seorang dewan guru untuk menggantikan mengajar kelas saya.

Keluar dari lab perut saya mulai keroncongan, saya keluar dari rumah sakit mencari makanan, sebenarnya di rumah sakit koq kantinnya.

Pukul 1.30 saya kembali ke lab, dan menunggu sebentar. Akhirnya perawat menyerahkan hasil lab ke saya.

Saya kembali lagi ke ruang THT untuk menyerahkan hasil lab. Dan dari ruang THT saya disuruh pergi ke ruang edukasi  “nanti kembali lagi kesini ya” kata perawat di ruang THT

Saya mengekor seorang perawat yang ditugaskan untuk menunjuk jalan menuju ruang edukasi. Setibanya di ruang edukasi ada dokter yang mewawancarai saya

“Ada riwayat alergi obat-obatan” tanya dokter yang memakai baju hijau

“Tidak”

“Pernah asma?” tanyanya lagi

“Pernah” Jawab saya

“Saat asma pakek obat semprot ke mulut” tanya dokter 

“Bukan, saya pakai obat oral” sahut saya

“Apa nama obatnya?” 

“Tidak tau”

“Sekarang sedang asma?”

“Tidak”

Ketidaktahuan tentang nama obat asma yang saya konsumsi wajar saja karena saya tidak pernah mengkonsumsi obat asma dalam setahun terakhir. Saya tidak terserang asma dalam setahun terakhir. 

Dan kedepannya saya ingin mencatat semua obat yang saya konsumsi.

keluar dari ruang ini saya kembali ke ruang THT.

“Hari minggu masuk rumah sakit ya, paling telat pukul 2 siang, Hari senin operasi” Kata perawat yang berada di ruang THT sambil menjelaskan berkas-berkas yang harus saya bawa pada hari minggu.

Dan saya pun pulang. Dan saya sangat lelah..